Surya/

Berita Surabaya

VIDEO - Begini bila Harris Rizki Peduli Pendidikan Masyarakat Kampung Kumuh

"INI SUDAH menjadi rutinitas saya sejak 2009 silam mengajarkan membaca masyarakat buta huruf," kata Harris.

SURYA.co.id | SURABAYA - Harris Rizki berangkat ke sekolah seperti biasa, untuk menjalankan tugas sebagai guru jaga perpuskaan di SDN IV Bubutan Surabaya.

Yang sedikit berbeda adalah, hari ini pria berusia 34 tahun tersebut membawa kostum badut lengkap dengan boneka tangan untuk dibawa serta.

Di pertengahan jam menjaga perpustakaan, Harris berganti kostum badut. Sambil membawa beberapa buku di tas jinjing berikut boneka tangan yang sudah ia siapkan, pria ini keluar sekolah menuju perkampungan kumuh Jalan Pawiyatan.

Sebuah kampung dengan 45 anggota keluarga yang berada persis di belakang sekolah SDN Bubutan IV Surabaya.

"Ini sudah menjadi rutinitas saya sejak 2009 silam mengajarkan membaca masyarakat buta huruf. Dulu pertama-tama sering ke Wonokromo dan Gundi. Saya meluangkan waktu di sini karena Kepala sekolah SDN Bubutan IV juga menghendaki usulan saya untuk mengajar di lingkungan sekitar," tuturnya, Senin (30/1/2017).

Sebelumnya di tahun 2009 silam, Harris aktif mengajar membaca secara gratis di lingkungan Wonokromo. Pria asal Simokerto, Surabaya ini lalu mengajar dengan berpakaian unik (seperti kostum badut yang ia kenakan) menginjak tahun 2015, karena tak ingin murid-muridnya bosan.

"Saya mengajar dari kampung ke kampung khusus kawasan kumuh. Sebelumnya saya juga melakukan survei dulu bagaimana kondisi masyarakatnya, jadi tidak sembarangan. Kostum yang saya kenakan tentu akan menarik perhatian mereka, supaya tidak monoton dan bosan. Jadi selain belajar juga bersenang-senang," ujanya sambil menunjukkan boneka tangan "Ayis" yang biasa membantu Harris menghibur warga di sela-sela materi.

Kedatangan Harris di Jalan Pawiyatan cukup membuat warga merasa diperhatikan. Mereka secara serempak berkumpul waktu Harris datang untuk belajar di plesteran gardu yang masih setengah jadi, atau proses pembangunan.

"Ayo belajar membaca dan menulis," ajak Harris kepada warga.

Sebelum memulai, Harris mengajak para peserta senam terlebih dahulu. Muridnya siang itu mayoritas ibu-ibu rumah tangga, yang sibuk mengurus balita mereka. Meski muridnya belajar sambil membawa anak, Harris tak keberatan. Dirinya tetap asyik dan sabar menjelaskan cara baca dan menulis huruf abjad.

"Tidak apa-apa Bu, semuanya masih belajar, ayo sama-sama. Tidak apa, meski sudah sepuh jangan malu," ajak Harris sabar, ketika muridnya, ibu Asiyah merengek malas menulis karena malu dan tak bisa membaca.

Harris mengarti, bahwa ibu-ibu rumah tangga itu punya sejumlah kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Sehingga waktu belajar pun tak dibuat lama, hanya sekitar 1 jam saja.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help