Opini

LGBTQI, Kenapa Susah Diterima Masyarakat?

Selama ini, komunitas LGBTQI digambarkan sebagai komunitas marginal, minoritas, dan tertindas oleh media sehingga representasinya buruk di masyarakat.

LGBTQI, Kenapa Susah Diterima Masyarakat?
surya/didik mashudi
TOLAK LGBT - Aksi penggalangan tanda tangan menolak keberadaan LGBT di Alun-alun Kota Kediri, Minggu (28/2/2016). 

                                                                                                                                           Penulis:

                                                                                                      Aulia Indira Kurniawati
                                                                                                      Manager of Attraction OGIP
                                                                                                      AIESEC in Surabaya 2016/2017

Pembahasan mengenai lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, intersex dan lain-lain masih sangat sensitif dibicarakan di Indonesia, bahkan penggunaan kata-kata tersebut masih saru diucapkan dan digunakan.

Terbukti munculnya pernyataan sejumlah tokoh politik untuk menon-aktifkan segala kegiatan yang berbau LGBTQI di awal tahun 2016.

Mengatasnamakan norma yang harus dijaga, pejabat tersebut secara tegas menolak segala hal yang berbau “sesama jenis”.

Tidak adanya perlindungan dari pemerintah menyebabkan kaum LGBTQI  mendapat perlakuan kekerasan baik fisik maupun seksual, dan terkadang mereka dibuang oleh keluarganya sendiri.

Negara yang seharusnya melidungi hak individu malah merampas hal tersebut dan melakukan diskriminasi.

Padahal komunitas LGBTQI sudah ada semenjak bertahun-tahun yang lalu.

Tepatnya Maret 1982 terbentuk komunitas LGBTQI di Indonesia bernamakan LAMBDA lantas diikuti oleh terbentuknya GAYa Nusantara pada Agustus 1987 di Surabaya.

Individu yang tergabung ke dalam komunitas ini termasuk ke dalam anggota feminisme radikal, sebab feminisme radikal mempermasalahan institusi-institusi keluarga/perkawinan dan sistem patriarki yang menurut mereka adalah sumber penindasan dari perempuan oleh pria.

Halaman
1234
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved