Berita Kota Batu

PO Bagong Beli 66 Bus Milik PO Puspa Indah, Apa Kata Komisi Pengawas Persaingan Usaha?

PO Bagong pekan lalu membeli 66 armada bus PO Puspa Indah beserta trayeknya. Yakni trayek Malang - Kediri, Malang - Jombang, dan Malang - Tuban.

PO Bagong Beli 66 Bus Milik PO Puspa Indah, Apa Kata Komisi Pengawas Persaingan Usaha?
amru muiz
Dua dari tiga bus jurusan Malang-Jombang-Tuban yang terlibat kecelakaan beruntun (totolan) akibat berebut penumpang di jalan raya Ngantang-Kasembon diamankan di Mapolres Batu, Jumat (4/12/2015). 

SURYA.co.id | BATU - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) belum melihat terjadinya monopoli usaha dalam usaha transportasi oleh PO Bagong.

Pasalnya, belum diketahui apakah ada atau tidak usaha transportasi lain yang dilarang dengan trayek sama seperti yang dimiliki PO Bagong.

"Kami melihatnya seperti itu, apalagi KPPU belum menerima laporan terjadinya persaingan usaha transportasi disitu dari pihak manapun yang merasa dihalangi usahanya," kata Aru Armando, Ketua KPPU Jatim, Rabu (25/1) malam.

Dijelaskan Aru Armando, dalam pengambil alihan bus dan trayek melalui jual beli yang sah maka hal itu tidak ada persoalan.

Seperti PO Bagong membeli armada PO Puspa Indah beserta trayeknya merupakan suatu kewajaran pasar.

Artinya, jual beli armada bus PO Puspa Indah beserta trayek itu jika tidak menyalahi aturan apapun sah-sah saja.

"Makanya, kami tidak bisa memberi penilaian dalam persoalan jual beli armada bus Puspa Indah oleh PO Bagong tanpa ada data apapun. Justru bisa salah komentar kami bila memberi nilai ada monopoli atau tidak dalam usaha transportasi tersebut," tandas Aru Armando.

Seperti diketahui, manajemen PO Bagong pekan lalu membeli 66 armada bus PO Puspa Indah beserta trayeknya.

Yakni trayek Malang - Kediri, Malang - Jombang, dan Malang - Tuban. Dampak dari pembelian armada bus PO Puspa Indah telah membuat ratusan pekerja kehilangan pekerjaan.

Demikian juga dengan para penumpang terpaksa menunggu waktu lama bus yang melayani rute bus Puspa Indah.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help