Surya/

Citizen Reporter

Sebaiknya Guru Tidak Mudah Menjatuhkan Sanksi Memecat Siswa, Ini Pertimbangannya …

namanya juga siswa, senyampang kenakalan mereka bisa ditolerir, perilaku mereka masih bisa diperbaiki.. beri sanksi yang tidak mempermalukan siswa ..

Sebaiknya Guru Tidak Mudah Menjatuhkan Sanksi Memecat Siswa, Ini Pertimbangannya …
pixabay
ilustrasi 

Reportase Agus Buchori
Guru Seni dan Budaya SMAM 6 Ponpes Karangasem, Paciran, Lamongan

IDEALNYA guru bisa memberi rasa aman dan nyaman secara psikologis,  menjadi tempat mengadu, dan figur tempat berbagi persoalan para murid-muridnya. 

Demikian harapan Prof  Dr Muazar Habibi MPsych, saat memberikan pelatihan para kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru Bimbingan dan Konseling mengenai Strategi Pembelajaran Berbasis Ramah Anak di Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem, Paciran, Lamongan, Jumat (16/12/2016).

Fenomena bully atau perundungan adalah kebiasaan yang sering terjadi di kalangan anak-anak yang bila tak ditanggulangi segera  mengakibatkan kondisi tak nyaman bagi korban, juga pelakunya.

Lebih jauh Muazar berharap, para kepala sekolah dan jajaran guru untuk meminimalkan jenis-jenis hukuman yang mempermalukan siswa.

Lebih parah adalah pemecatan siswa karena akan memunculkan stigma jelek terhadap siswa yang dikeluarkan dan berakibat pada masa depannya.

"Biar bagaimanapun persoalan kenakalan siswa harus dilihat secara menyeluruh karena apabila siswa sampai dikeluarkan, sekolah bisa dianggap gagal dalam mendidik anak," ingatnya.

Muazar juga mengingatkan para kepala TK/PAUD yang hadir akan pentingnya pembelajaran kontekstual sehingga anak bisa menyerap ilmu yang dipelajarinya langsung dari lingkungan sekitarnya.

Contohnya, memberikan materi sopan santun terhadap tamu bisa dilakukan dengan cara home visite secara langsung ke rumah siswa.

Bagaimana anak berperilaku terhadap tamu adalah pembelajaran kontekstual yang perlu secara langsung dirasakan, dilihat, didengar, dan dilakukan saat home visite.

Anak dan orangtua yang jadi tuan rumah akan menjadi role model yang bisa diamati tema-temanya.

“Selama ini kita salah memaknai home visite hanyalah mengunjungi anak yang sakit. Sebenarnya home visite adalah menjadikan rumah sebagai tempat pembelajaran secara langsung dengan melibatkan orangtua siswa juga untuk berinteraksi dengan sekolah," pungkas Muazar.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help