Berita Gresik

VIDEO - Ketika Banjir Lumpuhkan Sentra Perajin Rebana di Gresik

PRODUKSI REBANA BERHENTI. Di Bungah, sedikitnya ada 30 home industry rebana. Hasil kerajinan itu dijual ke berbagai daerah.

SURYA.co.id | GRESIK - Banjir luapan Sungai Bengawan Solo merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Gresik. Termasuk sentra perajin Rebana di Desa/Kecamatan Bungah, juga tak luput dari bencana tahunan yang sedang terjadi di sana.

Akibat terendam air, aktifitas para perajin di sejumlah home industry rebana di daerah itu pun lumpuh (lihat dalam video di atas).

"Sudah tiga hari tidak bisa beraktifitas sama sekali," Ulul Azmi, pemilik home industri perajin rebana H Abdul Malik, 30 November 2016.

Diceritakan, nama H Abdul Malik yang dipakai sebagai nama home industri itu adalah nama sang kakek yang mendirikan usaha tersebut sekitar tahun 1931 silam, dan masih eksis hingga sekarang.

Sepeninggal Abdul Malik, industri rebana itu dikelola oleh Ridwan, anak Abdul Malik yang merupakan ayah dari Ulul Azmi.

"Sekarang, saya membantu ayah mengelola ini," sambung anak pertama dari empat bersaudara tersebut di sela kesibukannya.

Sejumlah rebana setengah jadi dan beberapa alat pembuatnya tergeletak di teras rumah yang menjadi pusat home industry ini.

Karena lebih tinggi, rumah itu tak sampai kebanjiran. Sementara di rumah sebelahnya yang merupakan tempat tinggal pemilik dan dipakai sebagai galeri, air sudah masuk ke dalam rumah dengan ketinggian sampai selutut orang dewasa.

"Ya seperti ini kondisinya setiap kali banjir datang. Tidak ada kegiatan sama sekali karena rumah sudah kebanjiran. Semua karyawan juga libur sejak air mulai masuk rumah," ujar Ulul Azmi sambil merapikan beberapa rebana setengah jadi di teras rumahnya.

Banjir di kampungnya itu hampir setiap tahun terjadi. Dan setiap banjir datang, semua aktifitas produksi harus terhenti.

Di Bungah, sedikitnya ada 30 home industri perajin rebana. Hasil kerajinan itu dijual ke berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat dan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Ikuti kami di
Penulis: M Taufik
Editor: Yuli
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help