Berita Surabaya

Jelang Demo 212, PT KAI Larang Penumpang Bawa Atribut Tertentu, ini Alasannya

"Atribut bentuk apa pun kami larang. Ini bisa memicu insiden sehingga berpotensi pelemparan pihak lain di KA."

Jelang Demo 212, PT KAI Larang Penumpang Bawa Atribut Tertentu, ini Alasannya
surya/sudarmawan
Manajer Humas PT KAI Daop VIII Gatut Sutiyatmoko.

SURYA.co.id | SURABAYA - PT KAI Daop 8 Surabaya melarang semua penumpang membawa atribut tertentu saat perjalanan pada 2 Desember 2016 atau 212. Semua untuk menjaga hal yang tak diinginkan.

"Atribut bentuk apa pun kami larang. Ini bisa memicu insiden sehingga berpotensi pelemparan pihak lain di KA," kata Manajer Humas PT Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko, Rabu (30/11/2016).

Pihak KA saat ini tengah mengantisipasi aksi pada 212 besok.

Akan ada warga Surabaya dan sekitarnya diperkirakan berbondong-bondong ke Jakarta.

"Kalau ada warga jadi penumpang KA, sebaiknya melepas atribut yang ada kaitannya dengan aksi 212," tandas Gatut.

Pihak KAI memang tidak akan tahu bahwa penumpang pada 212 besok adalah penumpang murni atau peserta aksi 212.

Bukan wewenang KAI menyelidiki tujuan penumpang pergi saat hari itu.

"Siapa pun penumpang tak dilarang memanfaatkan sarana transportasi selama sesuai ketentuan. Semua harus bertiket," kata Gatut.

Urusan yang melarang-melarang itu adalah wewenang aparat. KAI hanya mensyaratkan penumpang yang berhak pelayanan perjalanan adalah yang bartiket.

Tak melihat siapa pemilik tiket. Namun saat naik KA, semua penumpang dilarang mengenakan atau membawa atribut tertentu.

Gatut menjelaskan larangan membawa atribut ini tidak hanya diperuntukkan pada peserta aksi yang akan menggelar Bela Islam III dengan tajuk ‘Aksi Super-Damai 212 di Jakarta.

Yang paling dicemaskan adalah penumpang dengan atribut suporter bola. Ini kerap berakibat fatal karena langsung disusul aksi lempar ke KA.

Penumpang akan diperiksa sebelum naik KA. Sejumlah larangan lain bagi penumpang adalah dilarang membawa hewan, senjata tajam, kemudian bahan berbahaya.

Ikuti kami di
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help