Berita Bojonegoro

Festival HAM 2016 di Bojonegoro Dihadiri Pelajar Serta Perwakilan dari Swedia dan Korsel

Politik SARA yang Sempit dan merusak akan diganti dengan politik kewarganegaraan untuk semua,” katanya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Festival HAM 2016 di Bojonegoro Dihadiri Pelajar Serta Perwakilan dari Swedia dan Korsel
surya/Iksan Fauzi
Suasana Festival Hak Asasi Manusia (HAM) 2016 di Pendopo Kabupaten Bojonegoro 

SURYA.co.id | BOJONEGORO - Rabu (30/11) pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar Festival Hak Asasi Manusia (HAM) 2016 di Pendopo.

Para pelajar dari penjuru nusantara, akademisi, jajaran pemerintah daerah lain, hingga perwakilan negara sahabat, yakni, Swedia dan Korea Selatan pun turut menyemarakkan.

Ada sekitar 500 peserta yang mengikuti festival HAM bertema "Merayakan Praktik Pancasila di Tingkat Lokal" itu.

Festival HAM yang digelar di Bojongeoro merupakan pertamakalinya digelar di daerah, sebelumnya selalu di ibukota negara, Jakarta.

Festival tersebut digelar untuk tempat saling bertukar kabar tentang praktik perlindungan HAM dilaksanakan di berbagai daerah.

Pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sendiri sudah mempraktikkannya, yakni, melindungi kelompok minoritas, toleransi antar umat beragama, serta transparansi pengelolaan anggaran.

"Andai saja 10 persen kabupaten di Indonesia seperti Bojonegoro, Kulon Progo, Wonosobo, dan Lampung Timur, maka kita akan melihat perubahan yang lebih baik di Indonesia ke depan," tutur Sidharto Danusubroto, anggota Dewan Pertimbangan Presiden saat memberikan sambutan pembuka acara Festival HAM 2016.

Direktur Eksekutif International NGO Forum On Indonesian Development (INFID), Sugeng Bahagijo menyampaikan, kebijakan dan praktik ramah HAM akan memberi insentif bagi semua warga negara, termasuk elitnya.

“Politik yang baik akan dipilih oleh warga yang baik dan pemimpin yang baik akan dipilih warga yang baik. Karena warga Indonesia percaya kebaikan akan dibalas oleh kebaikan. Politik SARA yang Sempit dan merusak akan diganti dengan politik kewarganegaraan untuk semua,” katanya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Suyoto mengungkapkan, HAM adalah alasannya hadir dan berkolaborasi menuju kemerdekaan masyarakat Indonesia.

Pancasila sendiri adalah janji memenuhi kebutuhan Hak Asasi Manusia.

“Kami menempuh itu dengan pendekatan dialog bersama masyarakat tiap Jumat untuk mendengar permasalahan warga serta memecahkannya" kata Suyoto kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Suyoto juga menceritakan Gereja Betani di Bojoenegoro selama 20 tahun tidak bisa digunakan. Namun, sejak ia terpilih menjadi bupati, Gereja itu difungsikan lagi.

“Hal itu tentunya dengan pendekatan dialog bersama kelompok agama dan seluruh elemen masyarakat,’ ujarnya.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Ikuti kami di
Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Yoni
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help