Berita Release

BPJS Ketenagakerjaan Pererat Hubungan Industrial Dengan APINDO

Dalam kegiatan tersebut Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto, menilai APINDO sebagai salah satu stakeholder yang memiliki peran penting.

BPJS Ketenagakerjaan Pererat Hubungan Industrial Dengan APINDO
surya/mujib anwar
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Darmo Surabaya, Dani Santoso. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Training Center, menggelar kegiatan penyemaian Undang undang 13 Tahun 2003 dengan memberikan perspektif baru untuk mewujudkan Undang undang Ketenagakerjaan yang selaras dengan penerapan teknologi dan era digitalisasi kepada para stakeholder.

Dalam kegiatan tersebut Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto, menilai APINDO sebagai salah satu stakeholder yang memiliki peran penting dalam peningkatan dan akuisisi kepesertaan.

"Oleh karena itu, pihaknya akan memastikan peningkatan kerjasama industrial agar hubungan industrial yang sudah terjalin dapat terjaga dan berkesinambungan," kata Agus dalam rilisnya, Rabu (9/11/2016).

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Shangri-La Surabaya, itu mengundang Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, sebagai salah satu Keynote Speaker dalam kegiatan tersebut dan Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, M Aditya Warman, sebagai Master Host sekaligus Project Research Head dari Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 12 Tahun 2003.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari Stakeholder, di antaranya dari Pemerintahan, Serikat Pekerja, dan para ahli serta NGO (Non-Government Organizations).

Dalam kegiatan ini Agus juga menyampaikan terobosan-terobosan yang dipersiapkan BPJS
Ketenagakerjaan untuk meningkatkan jaminan sosial bagi kalangan pekerja di Indonesia, baik pekerja formal (penerima upah) atau informal (bukan penerima upah).

"Terobosan tersebut berupa inovasi sosial seperti layanan informasi dan pengaduan hak pekerja melalui aplikasi BPJSTK Mobile dan skema perluasan kepesertaan melalui sistem keagenan dari komunitas yang ada di masyarakat, mengadopsi sistem Sharoushi dan Jimikumiai dari Jepang," jelas Agus.

Selain itu Agus juga memperkenalkan Gerakan Nasional Peduli Perlindungan Pekerja Rentan atau GN LINGKARAN yaitu skema crowdfounding untuk membantu pembiayaan iuran pekerja tidak mampu atau pekerja rentan melalui donasi CSR perusahaan atau individual.

Agus juga mengingatkan bahwa bonus demografi yang dirasakan Indonesia saat ini harus dimanfaatkan untuk persiapan penguatan dana pensiun secara jangka panjang.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif bagi kesejahteraan pekerja di seluruh Indonesia, dan mendorong kebijakan yang berpihak kepada pekerja”, ujar Agus.

Dukungan dari semua stakeholder yang hadir dalam konferensi itu sangat penting.

"Terutama untuk mewujudkan regulasi yang sejalan dengan Undang undang 40 Tahun 2004 tentang SJSN”, tandas Agus.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved