Surya/

Hukum Kriminal Surabaya

Jaksa Surabaya Lanjutkan Kasus Bos Nesar Narkoba dari Nusakambangan

Berkas perkara big bos sabu sabu (SS), Yoyok yang mengendalikan dari Nusakambangan.

Jaksa Surabaya Lanjutkan Kasus Bos Nesar Narkoba dari Nusakambangan
miftah faridl
Anggota Polsek Sedati, Sidoarjo berinisial Aiptu AL dan pacarnya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berkas perkara big bos sabu sabu (SS), Yoyok yang mengendalikan peredarannya dari penjara Nusakambangan tengah diteliti Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Sesuai rencana, Senin (24/10) besok, jaksa selesai memeriksa berkas. "Senin besok, kami baru bisa mengambil sikap. Apakah berkas tersebut lanjut P21 atau dikembalikan lagi ke penyidik kepolisian," kata Kajari Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi, Sabtu (22/10/2016).

Menurut Didik, dalam pemeriksaan berkas tersangka Yoyok kali ini, sudah banyak kemajuan. Karena beberapa kekurangan yang ada, telah dipenuhi penyidik kepolisian.

"Mudah-mudahan cepat rampung dan bisa segera disidangkan," paparnya.
Dalam kasus peredaran SS, tiga anak buah Yoyok sudah divonis mati di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Mereka adalah Aiptu Abdul Latif, anggota Polres Sidoarjo, Indri Rahmawati (istri siri Abdul Latif) dan Tri Diah Torissiah alias Susi. Namun Yoyok yang biasa dijuluki 'sang bos' masih belum disidangkan.

Kedok tersangka Yoyok terbongkar dalam mata rantai narkoba setelah anggota Polrestabes Surabaya menangkap Abdul Latif dan istri sirinya di Sedati. Dari hasil pemeriksaan kasus ini menyeret Tri Diah Torrisiah alias Susi hingga berujung ke Yoyok.

Tersangka Yoyok saat itu menjadi terpidana kasus narkoba dan sedang menjalani hukuman 35 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan.

Setelah kasus ini terbongkar, Yoyok akhirnya dipindahkan dari LP Nusakambangan ke LP Surabaya Kelas 1 di Porong, Sidoarjo.

Untuk mengendalikan bisnis haram ini, tersangka Yoyok hanya mengendalikannya dari balik jeruji besi. Kiprah terakhir, Yoyok memasok SS ke Surabaya seberat 50 kg dan diambil Abdul Latif kemudian didistribusikan ke pengedar di berbagai wilayah di Indonesia terutama Surabaya. 

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help