Berita Kampus Surabaya

Merinding Lihat Konser Musik Klasik di Kampus Universitas Surabaya

Pada pertengahan Januari 2016 lalu, Psychology of Music juga menggelar konser dengan konsep yang sama di Korea Selatan dan menuai tanggapan yang posit

Merinding Lihat Konser Musik Klasik di Kampus Universitas Surabaya
SURYA/HABIBUR ROHMAN
HARPA PIRATES - Pemain Harpa Felita Eleonora dan Ferren Louisa menampilkan musik Pirates of Caribbean pada Charity Concert Story of Us di Kampus Ubaya, Jumat (30/9/2016) malam. Acara Psychology of Music XI oleh jurusan Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) ini juga menyajikan perpaduan musik tradisional dan modern. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wulan Widyaswari, mahasiswa semester 5 jurusan Psikologi, Universitas Surabaya (Ubaya) menyanyi lirih.

Bibir mungilnya bergerak menirukan lantunan lirik lagu berjudul Royal, yang dibawakan oleh Krissa Merry, salah seorang guess star acara Psychology of Music XI. Ini konser alat musik klasik yang diselenggarakan tiap dies natalis Fakultas Psikologi Ubaya.

Selain menirukan sang penyanyi, Wulan beberapa kali juga terlihat semangat mengabadikan penampilan Krissa, lewat ponsel genggamnya.

"Merinding banget waktu Krissa menyanyikan lagu ini, suasananya musik dan lightingnya mendukung. Kebetulan dia adik kelasku di Jurusan Psikologi," katanya antusias, Sabtu (1/9/16)

Konser musik klasik, Psychology of Music XI tak hanya membuat Wulan senang.

Sekitar 360 penonton turut menyambut penampilan bintang tamu dengan ribuan pujian, lewat tepuk tangan.

Ini mengingat konser klasik disuguhkan oleh para mahasiswa dan guess star, dengan paduan alat musik tradisional Indonesia yaitu angklung dan alat-alat musik klasik seperti harpa, piano, dan violin.

Setya Nareta Dhamayanti, ketua acara Psychology of Music XI mengaku karena sudah menjadi acara tahunan, mereka mengusung konsep yang sedikit berbeda.

Yaitu menyuguhkan musik klasik dan beragam lagu, yang dibawakan oleh 70 pemain musik. Selain itu, sebagian dari hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada House of Angklung.

"Akan kami sumbangkan 15 % dari penjualan tiket. Kenapa Angklung? karena Angklung merupakan salah satu alat musik tradidional Indonesia yang unik. Kebetulan kami juga punya kelompok musik angklung di Fakultas Psikologi jadi ini bentuk kecintaan terhadap alat musik tradisional sekaligus kecintaan kami pada pelestarian musik angklung," jelasnya di pertengahan acara.

Bagi mahasiswa psikologi, membuat acara sebuah konser musik bukan hal yang biasa, untuk perayaan dies natalis atau ulang tahun fakultas.

Mereka punya tujuan tersendiri selain memberikan hiburan pada para hadirin yang datang.

"Dalam belajar psikologi kami paham bahwa, musik bisa memberikan ketenangan, menurunkan rasa cemas. Terlebih untuk musik klasik. Selain itu, kami di fakultas memiliki ekstra musik, untuk melatih soft skill teman-teman yang berminat, biar nggak jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang)," tegas Nareta.

Pada pertengahan Januari 2016 lalu, Psychology of Music juga menggelar konser dengan konsep yang sama di Korea Selatan dan menuai tanggapan yang positif.

"Jadi selain menjadi hobi dan penghilang cemas, ini melatih kami mendapatkan soft skill," tutupnya. 

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help