Berita Ekonomi Bisnis

Demi Program MBR, 200 Unit Rumah di Sedati Sidoarjo Dijual dengan Harga Miring

"Dari land bank kami di Juanda ini, kami jual harga yang seharusnya sudah bisa di atas Rp 1 miliar, kami pilih di bawahnya."

Demi Program MBR, 200 Unit Rumah di Sedati Sidoarjo  Dijual dengan Harga Miring
surya/ahmad zaimul haq
Henry J Gunawan (kanan) dalam sebuah acara. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kewajiban pengembang untuk ikut membangun program sejuta rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), membuat PT Kertabakti Raharja membangun kluster baru di land bank yang dimilikinya.

Kluster perumahan baru dengan harga jual mulai Rp 450 juta itu berada di kawasan Bandara Juanda, Sedati, Sidoarjo.

"Kami sudah ada land bank di situ dan juga ada perumahan kami sebelumnya. Dengan menambah cluster Diamond Park, bisa menjadi pilihan bagi MBR kelas menengah yang mencari rumah di lokasi strategis," jelas Henry J Gunawan, Direktur utama PT Kertabhakti Raharja, Jumat (16/9/2016).

Lebih lanjut, Henry menyebutkan, saat ini harga lahan di wilayah Surabaya dan Sidoarjo sudah cukup tinggi. Hal ini membuat MBR harus mencari rumah di kawasan pinggiran Sidoarjo yang ke arah Pasuruan, atau Mojokerto. Sementara untuk yang berbatasan dengan Surabaya, sudah sulit dijangkau.

"Tapi kami sebagai salah satu pengembang, harus ikut serta mewujudkan 1 juta rumah untuk MBR ini. Dari land bank kami di Juanda ini, kami jual harga yang seharusnya sudah bisa di atas Rp 1 miliar, kami pilih di bawahnya," lanjut Henry.

GM Kertabhakti Raharja Rika Kristina menambahkan, rumah-rumah bertipe kecil tetap laris manis untuk dijual saat ini. Setidaknya, sudah 30 persen unit terjual dari total 200 unit yang ada.

“Jumlah itu bisa bertambah dalam bulan ini. Lokasi yang strategis serta dukungan infrastruktur yang sudah mumpuni menjadi pertimbangan penting para user,” jelas Rika.

Terpisah, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Pengembang dan Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim, Soepratno menyebutkan, harga tanah yang terus naik itu tak hanya terjadi di Surabaya. Di berbagai kabupaten/kota di Jatim banyak yang tak bisa dikendalikan.

“Kalau harga tanahnya terus naik, kami tentu tak bisa menyesuaikan harga yang cocok untuk MBR,” ujar Soepratno ketika ditemui di sela-sela Seminar dan Bhakti Sosial DPD Apersi Jatim di Hotel Pullman.

Selain harga tanah yang terus naik, ada juga komponen dalam penentuan harga rumah murah. Salah satunya adalah proses perizinan serta harga bahan baku.

Upaya pemerintah pusat dalam menyederhanakan perizinan dalam berbagai paket kebijakan ekonomi memang cukup membantu.

"Tapi penerapannya juga harus diikuti oleh pemerintah daerah. Perizinan perumahan tergantung pada pemerintah daerah, dan ada pula pemerintah daerah yang belum memangkas sehingga masih berbelit dan lama," ungkapnya.

Apersi berharap pemerintah daerah bisa menyikronkan proses perizinan, seperti izin prinsip lokasi (IPL), izin mendirikan bangunan (IMB), serta analisis lingkungan dan banjir.

Di Jatim, pihaknya ditarget pemerintah pusat untuk membangun 9.000 rumah bagi MBR.
Sampai bulan ini, pihaknya sudah menyelesaikan 70 persen atau sekitar 7.200 rumah bagi MBR.

Rumah-rumah tersebut berada di Tuban, Lamongan, Situbondo, Probolinggo, Trenggalek, Kediri dan Tulungagung.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved