Citizen Reporter

Napas Terakhir Gubernur Suryo Berhenti di Sini

tak banyak kisah yang dikenal kaum muda ihwal Gubernur Suryo dan dua polisi yang mengawalnya saat ketiganya tewas di Ngawi medio 1948 silam...

Napas Terakhir Gubernur Suryo Berhenti di Sini
rintahani johan pradana/citizen
Wana wisata monumen Gubernur Suryo di Ngawi 

Reportase : Rintahani Johan Pradana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang
fb.com/joe pradana

NGAWI 10 September 1948 menjadi hari terakhir bagi Raden Mas Tumenggung Ario Suryo. Saat melintas di hutan jati Kedunggalar, Ngawi, mobil yang ditumpangi gubernur pertama JawaTimur ini dicegat beberapa orang yang disinyalir anggota Partai Komunis Indonesia. 

Gubernur Suryo dipaksa keluar dari mobil yang ia tumpangi, kemudian dibunuh dan jasadnya ditinggalkan tak jauh dari lokasi pembunuhan.

Tak hanya Gubernur Suryo, insiden ini juga merengut nyawa Kombes Pol M Doerjat dan Kompol Soeroko. Hingga keesokan harinya, jasad ketiganya baru ditemukan warga.

Kisah ini diabadikan di relief yang terletak di bawah patung Gubernur Suryo dan dua sosok polisi, di Wana Wisata Monumen Gubernur Suryo, di tepi jalan raya Ngawi–Solo.

Monumen yang diresmikan Mayor Jenderal TNI AD Witarmin, 20 Oktober 1975 ini cukup terawat. Di sekitarnya tumbuh aneka tanaman yang terjaga keasriannya dan kerap menjadi tujuan istirahat para pengendara.

Feris Eka, siswa SMAN di Kabupaten Ngawi yang tengah berkunjung bersama kawannya mengaku sering nongkrong di sana. “Habis pulang sekolah, atau sore hari biasanya ke sini,” ucap Feris.

Saat ditanya mengenai sosok yang diabadikan dalam monumen, dirinya mengaku tak banyak tahu. “Tahunya sih cuma satu, Gubernur Suryo saja, yang dua aku gak tahu namanya,” aku Feris.

Gubernur Suryo, sosok penting dalam sejarah Jawa Timur. Tokoh yang pernah mengemban amanat sebagai residen di Bojonegoro tersebut juga terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Melalui pidatonya, Gubernur Suryo menolak tegas ultimatum sekutu yang mewajibkan arek-arek Suroboyo menyerahkan diri dan senjata. Perannya luar biasa dalam menjaga keutuhan JawaTimur. Nahas, napas terakhir sang gubernur berhenti dalam tragedi yang justru melibatkan sesama bangsa sendiri.

Sosok Kombes Pol M Doerjat dan Kompol Soeroko merupakan anggota kepolisian yang turut berjuang mengamankan kondisi di wilayah Madiun dan sekitarnya, dalam gejolak tahun 1948. Rasa tak puas terhadap hasil perjuangan diplomasi membuat segelintir golongan di beberapa wilayah mencoba melakukan aksi makar.

Merupakan tugas perangkat keamanan negara untuk menertibkan berbagai aktivitas yang mengancam kedaulatan, meski pada akhirnya nyawa keduanya  ikut menjadi tumbal revolusi.

Sejarah selalu menghadirkan kisah beragam. Suka maupun duka hadir di setiap lembarnya. Cara paling tepat bukan meninggalkan, namun memelajari, memahami, serta memaknai setiap pesan yang  disampaikan dan mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan yang dikisahkan.

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved