Berita Release

Mensos: Waspada Radikalisme Bidik Anak Usia 14 Tahun

“Tugas Indonesia memahami identitas radikalisme dan mewujdukan kesejahteraan sosial, sekaligus menyiapkan standar kompetensi untuk pekejaan sosial."

Mensos: Waspada Radikalisme Bidik Anak Usia 14 Tahun
foto: Humas Kemensos RI
Rakernis: Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menghadiri Rapat Kerja Teknis (Rakernis) untuk penyaluran bantuan sosial (bansos) non tunai PKH, Rastra, KUBE dan E-Warong di Hotel Sahid Rich, Jogjakarta, Jumat (26/8/2016) malam. 

SURYA.co.id | SOLO - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, tantangan dari pekerjaan sosial dan pekerja sosial semakin kompleks dan dinamis yang melibatkan dari negara-negara Association of South East Asia Nations (ASEAN).

“Tadi pertemuan ke-5 ASEAN Countries untuk pekerjaan sosial dan perkerja sosial negara ASEAN sudah selesai dengan membawa tugas untuk masing-masing delegasi, ” ujar Mensos usai menutup pertemuan pekerja sosial di Hotel Lor Inn, Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/8/2016) malam.

Di Indonesia, kata Mensos, ada dua asosiasi pekerjaan sosial dan profesi pendidikan pekerja sosial. Agenda terdekat akan digelar pertemuan pada 9 September 2016.

“Tadi delegasi dari China sudah pulang dan mereka mengundang Indonesia untuk hadir pada 9 September 2016 terkait isu-isu dengan pekerjaan sosial dan pekerja sosial, ” ucapnya.

Pascadigelar pertemuan dihadiri delegasi negara-negara ASEAN dan ada nota kesepahaman atau MoU bahwa setiap negara akan fokus pada tugas masing-masing dan tahun depan akan diperbarui kembali.

“Tugas Indonesia memahami identitas radikalisme dan mewujdukan kesejahteraan sosial, sekaligus menyiapkan standar kompetensi untuk pekejaan sosial dan pekerja sosial, ” tandasnya.

Negara-negara ASEAN lain pun mendapatkan tugas yang sama seperti Indonesia, tapi berbeda tema dan fokus yang harus dikaji dan dipersiapkan pada pertemuan yang akan digelar tahun depan tersebut.

“Bagi Indonesia, tidak hanya menyiapkan identitas memahami radikalisme dan mewujdukan kesejahteraan. Namun, ditambah dengan pemetaan masalah dan fokus pada penanganan masalah,” katanya.

Hal itu terkait keputusan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengganti Millennium Development Goals (MGDs) dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang baru dimulai Januari 2016.

“Dari 17 poin SDGs, Indonesia akan foksu pada poin kesatu dan kedua, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan, serta tidak ada lagi kejadikan kelaparan, ” tandasnya.

Kondisi di atas, merupakan tantangan bersama di depan mata bagi pekerjaan sosial dan pekerja sosial. Sebab, SDGs merupakan komitmen masyarakat dunia yang mesti menjadi bagian dari rencana kerja dan kebijakan pemerintah.

“Jelas sekali SDGs merupakan komitmen dari masyarakat dunia untuk mewujudkan kesejahteraan dan berupaya agar tidak terjadi kelaparan,”katanya.

Namun, yang tak kalah penting dan menjadi pekerjaan rumah bagi pekerjaan sosial dan pekerja sosial adalah rekrutmen dan doktrin radikalisme yang sudah menyasar anak-anak usia sekolah menengah.

“Doktrin dan paham radikal sudah ada indikasi ditanamkan kepada anak-anak usia sekolah menengah, yaitu kelas 2 dan 3 atau berumur 14 dan 15. Maka, mesti disadarkan dan dihentikan melalui pendekatan kesejateraan sosial oleh pekerjaan sosial dan pekerja sosial,” harapnya.

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help