Life Style

Bullying Sering Dianggap Lelucon, Psikolog Anak: Kadang Guru secara Tak Sadar ikut Mem-bully Siswa

Bullying yang meliputi fisik dan psikis, harus dibatasi dengan adanya struktur berupa aturan sistematis.

Bullying Sering Dianggap Lelucon, Psikolog Anak: Kadang Guru secara Tak Sadar ikut Mem-bully Siswa
rorry nurmawati
foto ilustrasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini anak-anak Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Bullying telah menjadi fenomena sosial di tanah air dengan makin maraknya tayangan televisi menunjukkan bahwa kultur merendahkan orang adalah sebuah lelucon.

Berangkat dari kultur yang kemudian semakin kuat itu, kegiatan bullying menjadi sesuatu yang membanggakan dan dianggap tidak masalah jika dilakukan pada orang lain.

Hal tersebut tentu menjadi suatu hal membahayakan ketika bullying terjadi tanpa disadari, khususnya pada anak yang baru menjajaki sekolah dan lingkungan baru.

Bullying yang meliputi fisik dan psikis, harus dibatasi dengan adanya struktur berupa aturan sistematis.

Psikolog anak, NK Endah Triwijati MA mengatakan yang terpenting untuk menghindari praktik bullying di sekolah adalah dengan tidak adanya jajaran guru yang memberi contoh pada siswa.

“Kadangkala guru pun secara tidak sadar ikut membully siswa. Kemudian siswa lain akan beranggapan bahwa hal tersebut diperbolehkan, dan meniru sang guru,” kata wanita yang akrab disapa Tiwi itu.

Bullying bisa terjadi bukan hanya dari siswa atau guru ke siswa, tapi juga dari siswa atau guru pada guru. Orang yang menjadi korban bully biasanya memiliki ciri-ciri tertentu yang terbentuk dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Antara lain ciri fisik yang tidak ideal dan kurangnya kepercayaan diri.

“Namun kurangnya kepercayaan diri ini juga bisa membuat seseorang berperilaku sebaliknya dan malah menjadi pelaku,” tuturnya.

Aturan tertulis harus dibuat untuk mengurangi tindak bullying di sekolah pada siswa. Aturan tersebut mencakup aturan untuk pelaku yang patut mendapatkan peringatan, penelusuran motif, dan penanganan secara khusus baik secara konseling pribadi maupun secara terbuka diminta meminta maaf pada korban.

Pihak kedua yang tercakup dalam aturan adalah korban. Korban bisa dipanggil secara baik-baik dan dilakukan sesi konseling dan sharing.

“Semua harus dilakukan hingga korban pulih dari situasi pasca bullying,” lanjut dosen Universitas Surabaya (Ubaya) itu.

Pihak ketiga adalah saksi, atau yang disebut dengan bystander, yaitu murid atau guru yang melihat dan berada di tempat kejadian bullying namun tidak terlibat secara langsung. Bystander akan diberi reward ketika ia membantu menghentikan tindak bullying dan melindungi korban. Rewardnya bukan berupa uang atau barang, namun berupa pengakuan dan diumumkan sebagai pemberani sehingga dapat membangun kepekaan dan keberanian sosial untuk melakukan hal yang sama.

“Harapannya pasti untuk mengurangi pelaku bullying,” ujar Tiwi. Selain itu, sekolah bisa menyediakan saluran pelaporan sehingga prosedurnya jelas dan tepat sasaran.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved