Surya/

Reportase dari Prancis

Ketika Tempe Indonesia Bersinar di Pentas Kuliner Dunia

masihkah mengatakan tempe, makanan asli Indonesia ini sebagai menu wong ndeso, setelah pentas kuliner dunia terpesona dengan tempe?

Ketika Tempe Indonesia Bersinar di Pentas Kuliner Dunia
mimi champy/citizen
Inilah tempe Biosegar yang diproduksi dan dipasarkan di Prancis 

Reportase : Mimi Champy
Traveller/blogger/pegiat literasi/ibu rumah tangga/mukim di Prancis

TEMPE, siapa yang tak kenal makanan sehat asli Indonesia berbahan dasar kedelai ini? Dunia agaknya sudah mahfum dengan tempe Indonesia setelah dipopulerkan Rustono di Jepang, dikenalkan oleh Amita Bussink di Australia, diboyong ke Amerika oleh mahasiswa yang pernah kuliah di Kota Malang, dan akrab di lidah Eropa yang dikenalkan oleh warga negara Indonesia maupun warga lokal negara yang bersangkutan.

Pun di Prancis. Warga negara penghasil keju ini mengenal tempe setelah diusung oleh Ana Larderet, warga Prancis yang terpesona dengan kenikmatan tempe. Sementara warga negara Indonesia di Prancis menyantap tempe dengan cara memesannya dari Belanda atau bahkan mereka membuat tempe sendiri.

Salah satunya adalah Nurlaili Robert. Perempuan Indonesia yang menikahi pria berkebangsaan Prancis ini mulai memperkenalkan tempe ke masyarakat di sekitar Bordeaux sejak Januari 2015.

Lely -demikian perempuan 42 tahun ini dikenali- memulai bisnis tempenya secara berlisensi tidaklah mudah. Banyak birokrasi dan aturan yang cukup menyita waktu dan tenaga saat pengurusan perzjinan usahanya.

Seperti diketahui, kebersihan dan kehiginesan di Prancis adalah hal yang sangat diutamakan. Bahkan Lely pun harus membawa sampel produk tempenya ke laboratorium untuk mendapatkan izin produksinya.

Tidak hanya itu, sebelum izin produksi dan pemasaran keluar, tim dari dinas kesehatan Prancis mendatangi rumah Lely dan memeriksa kebersihan dan kelayakkan tempat produksi tempenya.

Sembari mengurus perizinan, Lely terus memproduksi tempe. Dengan penjualan dari mulut ke mulut, tempe buatannya pun banyak disukai konsumen, dengan harga sekitar 2-4 Euro per kemasan (dengan kurs satu Euro setara dengan Rp 14.000).

Saat perizinannya keluar pada Agustus 2015 silam, Lely pun mulai memproduksi tempe secara luas dengan label tempeh Biosegar. Itu karena Lely menggunakan bahan dasar kacang kedelai bio.

Selain penjualan dari mulut ke mulut, ia juga memasarkan tempenya di toko-toko Bio, serta ikut pameran internasional di Bordeaux. Saat pameran internasional, Lely pun menjelaskan tentang tempe dan cara mengolah tempe menjadi makanan yang awam di lidah Prancis.

Banyak pengunjung yang mencoba mencicipi tempe hasil olahannya, ternyata banyak yang suka. Bahkan Lely beberapa kali diwawancara oleh jurnalis Prancis, dan salah satunya masuk koran Le Répbulicain (Oktober 2015).

Menurut Made Astawan, Ketua Forum Tempe Indonesia yang juga pengelola Rumah Tempe, bahwa tempe menjadi unik karena proses produksinya. Made berharap, tempe Indonesia bisa menjadi trendsetter produksi tempe tingkat dunia. Walaupun tempe di negara asalnya dianggap sebagai makanan wong ndeso, nyatanya sekarang tempe Indonesia sukses menembus pentas kuliner dunia.

Jadi, masih gengsi makan tempe?

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help