Surya/

Berita Surabaya

Resmikan Balai Cak Markeso, Risma Apresiasi Keguyuban Warga Kampung Ketandan Genteng

Pembangunan joglo ini merupakan hasil kerja sama United Cities Local Goverment Asia Pacific (UCLG ASPAC), UN Habitat, dan Pemko Surabaya.

Resmikan Balai Cak Markeso, Risma Apresiasi Keguyuban Warga Kampung Ketandan Genteng
surya/ahmad zaimul haq
JOGLO MARKESO - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat meresmikan Joglo Cak Markeso di kampung Ketandan, Genteng, Rabu (27/7/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Balai Budaya Cak Markeso di Kampung Ketandan, Genteng akhirnya diresmikan Wali Kota Surabaya, Rabu (27/7/2016).

Balai budaya ruang publik penyambung warga ini, sengaja diresmikan bersama beberapa delegasi The Third Session Preparatory Committe (Prepcom) 3 for Habitat III.
Balai budaya berada di tengah permukiman ini akan menjadi ajajng berdiskusi tentang segala hal terkait lingkungan tempat tinggalnya.

Pembangunan joglo difungsikan sebagai pendopo ini merupakan hasil kerja sama United Cities Local Goverment Asia Pacific (UCLG ASPAC), UN Habitat, dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Pembangunan ini bentuk dukungan UCLG ASPAC kepada Pemkot Surabaya dalam mewujudkan pembangunan Surabaya menjadi kota berkembang secara berkelanjutan.

Sekjen UCLG ASPAC, Bernardia Irawati Tjandradewi mengatakan, ruang publik bukan hanya berupa ruang terbuka hijau. Tapi juga berupa bangunan yang bisa difungsikan warga untuk berkumpul dan memperkuat interaksi sosialnya.

Balai Budaya tersebut diberi nama Cak Markeso, seorang tokoh ludruk ternama, tujuannya untuk mempersatukan dan memelihara warisan budaya di area tersebut.

Bernardia mengaku jatuh cinta dengan keguyubannya masyarakat. Masyarakatnya saling support untuk membenahi kampung.

"Lingkungannya juga aman. Saya dengar Bu Risma juga dua kali membantu mengecat bersama warga,” katanya.

Sedang Wali Kota Tri Rismaharini mengakui keberadaan Kampung Ketandan dikelilingi bangunan hotel dan mal, sangat krusial untuk menghidupkan pusat kota.

Kampung berada tepat di jantung Kota Surabaya ini, hidup selama 24 jam karena warganya aktif berinteraksi. Beda dengan kawasan pertokoan yang sudah “mati” ketika pukul 22.00 WIB.

“Merekalah yang jaga kota selama 24 jam karena toko-toko tutup jam 10 malam. Karena itu, saya berusaha semampu saya untuk mempertahankan kampung ini karena sejarah Surabaya itu terbentuk dari kampung-kampung,” ujar wali kota.

Peresmian Balai Budaya tersebut menjadi momen bersejarah bagi warga Ketandan. Warga antusias menyemarakkan acara tersebut. Mereka juga menampilkan beberapa produk kerajinan.

Termasuk menjamu para delegasi Prepcom III dengan makanan khas Ketandan.

Penulis: Rorry Nurwawati
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help