Lebaran 2016

Arus Mudik dengan Kapal Laut Turun 20 Persen, ternyata ini Penyebabnya

"Pertama, libur sekolah yang sudah berlangsung sejak awal bulan puasa. Kedua, frekuensi dan harga tiket pesawat yang lebih banyak dan terjangkau."

Arus Mudik dengan Kapal Laut Turun 20 Persen, ternyata ini Penyebabnya
antara
Ilustrasi mudik menggunakan kapal 

SURYA.co.id | SURABAYA - Arus Mudik hari raya Idul Fitri tahun 2016 mengalami penurunan hingga 20 persen dibanding tahun 2015. Ada tiga penyebab jumlah penumpang kapal laut turun.

"Pertama, libur sekolah yang sudah berlangsung sejak awal bulan puasa. Kedua, frekuensi dan harga tiket pesawat yang lebih banyak dan terjangkau. Dan ketiga, banyak perusahaan tambang dan perkebunan di luar pulau Jawa yang gulung tikar," jelas Erwin H Poedjono, Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama (DLU), operator kapal penyeberangan laut, Selasa (12/7/2016).

Libur sekolah yang lebih awal, membuat penumpang lebih dulu berangkat mudik di awal puasa.

Erwin menyebutkan, sejak awal puasa pada 6 Juni lalu, sudah ada peningkatan jumlah penumpang dibanding sebelum bulan puasa. Kondisi itu stabil hingga h - 7 Lebaran. Setelah H- 7, terlihat mengalami penurunan.

Kemudian untuk imbas dari moda transportasi pesawat, diakui Erwin, beberapa rute yang dilayani DLU juga dilayani rute pesawat yang frekuensinya lebih banyak. Harga tiket yang tidak berbeda jauh juga ikut mempengarui.

"Misalnya rute Banjarmasin - Surabaya, kami melayani, pesawat juga melayani, dengan frekuensi terbang yang lebih banyak. Waktu juga lebih cepat pesawat," jelas Erwin.

Sedangkan untuk pangsa pasar penumpang kapal penyeberangan, juga mengalami penurunan di mana sepanjang awal tahun 2016 hingga pertengahan tahun ini.

Puluhan perusahaan tambang dan perkebunan yang guling tikar. Erwin mencatat ada sekitar 7.000 pekerja asal Jawa yang bekerja di perusahaan batubara di Batulicin tutup.
Sehingga mereka sudah kembali ke Jawa ataupun mencari pekerjaan baru, yang membuat mereka batal untuk pulang kampung.

"Tapi kami tetap memberikan layanan terbaik. Meski jumlah penumpang turun, kami tetap upayakan dengan melakukan subsidi silang melalui penjualan tiket dengan tarif progresif. Bagi yang membeli sejak lama, akan mendapat harga murah dan membeli secara mendadak, kena harga tinggi. Sama seperti pesawat," jelas Erwin.

Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menambahkan, seharusnya pemerintah mengalihkan subsidi untuk program tol laut ke pihak swasta karena progam tersebut dinilai tidak memberi pengaruh besar.

"Anggaran yang pemerintah berikan kepada swasta dapat membuat kapal–kapal swasta yang ada saat ini tepat waktu dalam mengangkut barang. Karena penumpang sudah beralih ke pesawat," jelasnya.

Pemerintah tidak perlu membangun kapal baru lagi jika memberikan subsidi kepada swasta. Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak perlu kedodoran jika pemerintah melakukan itu.

Saat ini kapal–kapal swasta yang telah melakukan angkutan logistik antarpulau di Indonesia mencapai lebih dari 14.000 unit. Jumlah tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah kapal dalam program tol lautnya pemerintah.

Kapal-kapal swasta tersebut, telah membuat distribusi secara merata ke seluruh Indonesia. Salah satunya, sudah melakukan pengiriman barang ke Jayapura mencapai 100.000 TEUs dalam setahun.

“Angkutan antar pulau sudah sangat bagus,” tandasnya.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved