Lebaran 2016

H + 4 Idul Fitri Penderita Demam dan Diare di Lamongan Meningkat, Disebut akibat Dendam Pola Makan

"Orang dewasa juga banyak yang mengeluh sakit serupa,"ungkap Nur Hidayatun, Bidan praktik swasta di Deket kepada Surya.co.id, Minggu (10/7/2016).

H + 4 Idul Fitri Penderita Demam dan Diare di Lamongan Meningkat, Disebut akibat Dendam Pola Makan
surya/miftah faridl
Ilustrasi pelayanan di rumah sakit. 

SURYA.co.id | LAMONGAN - Pada H + 4 Idul Fitri 1437 H ini semakin banyak masyarakat yang sakit.

Para penderita itu khususnya didominasi anak - anak dengan keluhan demam, batuk, pilek, dan diare.

"Orang dewasa juga banyak yang mengeluh sakit serupa,"ungkap Nur Hidayatun, Bidan praktik swasta di Deket kepada Surya, Minggu (10/7/2016).

Jumlah pasien yang ke tempat praktiknya menjadi barometer dan data riil meningkatnya penderita setelah Ramadan.

Bahkan peningkatan jumlah pasien itu dirasakannya sejak H + 2 Idul Fitri. Bidan senior yang pernah bertugas di BP Muhammadiyah Lamongan dan BP Muhammadiyah Babat sebelum akhirnya sebagai PNS ini mengku sampai sulit istirahat karena melayani pasien yang silih berganti ke tempat praktiknya.

Tak hanya pagi, siang dan sore. Malam hari juga banyak yang memencet bel rumah meminta pertolongannya.

Hanya saja, saat ditanya berapa peningkatan jumlah uang yang didapatkannya, Nur Hidayatun hanya mengatakan patut disyukuri sembari tersenyum.

Nur, menandaskan, meningkatnya jumlah pasien dengan segala keluhannya bukan akibat berpuasa, tapi masyarakat, termasuk anak - anak yang tidak mau mengendalikan pola makan.

"Kalau saya boleh istilahkan, mereka dendam makan dan minum,"ungkapnya.

Sedang penderita anak - anak karena kecapekan, imunitasnya menurun sehingga daya mudah terserang penyakit.

Mestinya, setelah puasa pola makan dan minum normal seperti sebelum puasa, tidak malah balas dendam.

Selain itu, perlu dipahami bahwa saat puasa, tetap boleh memeriksakan kesehatan tanpa membatalkan puasa.

"Jadi boleh diinjeksi kalau diperlukan dan makan obat sesuai jadwal yang sudah disesuaikan,"katanya.

Ia sangat menyayangkan jika ada penafsiran puasa tidak boleh diinjeksi untuk pengobatan. Atau ada anggapan lain yang sampai masyarakat takut berobat ke dokter atau ke rumah sakit saat bulan Ramadan.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved