Citizen Reporter

Duel Maut Kentrung 3 Generasi dalam Wahyu Cucak Ijo Pancawarna

penikmat kentrung boleh bernapas lega karena regenerasi seni tradisional rakyat ini masih ada penerusnya.. inilah duel maut kentrung lintas generasi..

Duel Maut Kentrung 3 Generasi dalam Wahyu Cucak Ijo Pancawarna
weny estiyani/citizen
Aksi duel maut kentrung lintas generasi 

Reportase : Weny Estiyani
Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang 

SELAMA enam jam penuh, Sabtu (30/4/2016), lapangan voli Universitas Negeri Malang (UM) menjadi saksi duet maut tiga kelompok kentrung lintas generasi yang memainkan Wahyu Cucak Ijo Pancawarna. 

Sanggar Teater Gedhang Godhog SMPN 2 Campurdarat Tulungagung, UKM Blero UM, dan Sedyo Rukun Mbah Gimah Tulungagung mengawinkan kentrung kreasi dan kentrung tradisi.

Alunan musik kreasi UKM Blero UM membuka duet malam itu dilanjutkan penampilan kentrung kreasi Sanggar Teater Gedhang Godhog SMP N 2 Campurdarat Tulungagung.

Lewat Wahyu Cucak Ijo Pancawarna, mengisahkan kehidupan janda ayu Dewi Fatimah yang mendapat amanah suami untuk menjaga wahyu manuk cucak ijo pancawarna.

Mitos berkabar, barang siapa yang menyantap kepala cucak ijo, bakal menjadi raja, dan yang memakan badannya akan menjadi patih.

Selain itu, dua putra Dewi Fatimah, Gondosari dan Gondosupeno, bersiap akan meninggalkan sang bunda dengan pergi menuntut ilmu ke Mesir.

Cerita dibawakan penuh ekspresi dan keceriaan ditingkah rancak alat musik kendang, jidor, saron, templing, dan tamborin. Sentilan-sentilan berupa dagelan menjadi bumbu dalam penyampaian cerita.

UKM Blero UM melanjutkan kisah perjalanan Gondosari dan Gondosupeno di Mesir hingga keduanya berganti nama menjadi Ahmad dan Muhammad.

Pun kisah cinta Dewi Fatimah dengan Joyomangkudo, saudagar asal Makassar yang mendengar kabar kesaktian cucak ijo.

Joyomangkudo berharap bisa memiliki kesaktian wahyu cucak ijo pancawarna. Tak dinyana, cucak ijo yang usai dimasak Dewi Fatimah untuk Joyomangkudo malah disantap Ahmad dan Muhammad.

Joyomangkudo naik pitam dan mengusir Dewi Fatimah dan kedua putranya.

Mbah Gimah dan Pak Bibit dengan kentrung tradisi tidak kalah menarik menyelesaikan lanjutan cerita dengan akhir seru.

Penggambaran tokoh dan suasana disajikan dalam tuturan kata, tembang macapat, dan parikan diiringi suara kendang, jidor dan templing. Pertunjukan budaya sarat amanat, kritik sosial, dan pesan moral.

Penonton pun dibuat terkesan.

 


 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved