Selamatkan Warisan Leluhur

Arkeolog : Prosedur Lapor Penemuan Aset Bersejarah Ribet

Jika cagar budaya itu sudah menjadi benda yang dihormati di tengah masyarakat, dengan sendirinya mereka akan menjaga.

Arkeolog : Prosedur Lapor Penemuan Aset Bersejarah Ribet
irwan syairwan
Struktur batu-bata candi di kebun wilayah Kelurahan Urangagung, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo, Minggu (1/11/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Banyaknya benda bersejarah diperjualbelikan di pasar gelap, salah satunya karena peraturan perundangan kita terlalu rumit mengatur prosedur penemuan aset bersejarah.

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang Blasius Suprapta (53) mengatakan, UU 11/2010 tentang Cagar Budaya sangat birokratis dan memakan waktu lama pelaporan penemuan benda bersejarah, mulai dari desa hingga ke pemerintah pusat.

Hal itu membuka peluang bagi orang-orang yang ingin menguasai temuan itu, karena ada waktu lama sebelum pemerintah pusat memutuskan apakah benda temuan itu termasuk dilindungi atau tidak.

Menurut undang-undang itu, temuan benda yang diduga bersejarah harus dilaporkan dulu ke desa, dari desa secara berjenjang dilaporkan hingga ke pemerintah pusat.

”Sebelum ada UU itu, langsung saja ke BPCB (Balai Peninggalan Cagar Budaya) selesai. Kalau kota, ya kota. Jika ada orang yang paham tentang UU itu, ia bisa berbuat apa saja sebelum ada putusan pusat,” kata Blasius.

Sebetulnya, menurut Blasius, keberadaan cagar budaya sangat erat kaitannya dengan kehidupan warga sekitar.

Jika cagar budaya itu sudah menjadi benda yang dihormati di tengah masyarakat, dengan sendirinya mereka akan menjaga.

Seperti pengalaman Blasius ketika menemukan benda cagar budaya di Pujon.

Di sana, warga sengaja membuat tembok semen di sekitar situs agar tidak ada pencuri yang masuk.

Niatan warga itu baik, namun hal itu bertentangan dengan UU.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Benni Indo
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved