Berita Surabaya

Harimau Sumatera di KBS ini Susah Makan, Bangunpun Susah, Ternyata Begini Nasibnya

#Surabaya - Rama, Harimau Sumatera yang menjadi penghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS) sejak 21 Juni 2000 meninggal dunia

Harimau Sumatera di KBS ini Susah Makan, Bangunpun Susah, Ternyata Begini Nasibnya
SURYA.co.id/Monica Felicitas
Salah satu Harimau yang berada di Kebun Binatang Surabaya (KBS) 

SURYA.co.id I SURABAYA – Rama, Harimau Sumatera yang menjadi penghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS) sejak 21 Juni 2000 meninggal dunia pada Minggu (10/4/2016) sore.

Dia meninggal akibat gagal jantung dan sempat menjalani perawatan di Balai Karantina KBS.

Kabar ini dipastikan drh Irmanu Ommy N, dokter hewan Kebun Binatang Surabaya. Katanya, Rama adalah harimau jinak.

"Kalau bangun juga lebih lama daripada harimau lainnya," kata Irmanu pada SURYA.co.id, Senin (11/4/2016).

Irmanu memaparkan darah, urin, dan feses Rama sempat diperiksa oleh tim dokter. Pemeriksaan ini karena Rama punya catatan berbeda dengan harimau jantan Sumatera yang lain.

Tak diketahui bagaimana catatan tersebut, namun Rama yang memiliki bobot 113,7 kg juga mendapat perlakuaan khusus daripada hewan yang lain sebelum meninggal.

Makanan yang diberikan pada Rama merupakan pilihan khusus dari KBS. Mulai dari ayam segar, blenderan jerohan hati ayam dan kuning telur.

Meski demikian, Rama tak mau memakannya penuh. Dia hanya makan dengan porsi yang sangat sedikit. Deteksi awal, Rama juga terkena sariawan.

"Perhatian kami lakukan lebih, waktu meninggalnya pun masih dalam pengawasan dan ada yang menjaga," ujarnya.

Plt Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS), Aschta Mira Tajudin menjelaskan kepada media, Senin (11/4/2016) kini jasad Rama masih dalam perlindungan Kebun Binatang Surabaya, untuk selanjutnya akan dilakukan Taksidermi (pengawetan).

"Setelah meninggal dilakukan pemeriksaan ternyata tubuh Rama Abdomen (berisi banyak cairan)," jelasnya.

Rencananya, beberapa organ tubuh Rama akan diawetkan, salah satunya yaitu kulit, guna wawasan pembelajaran bagi masyarakat.

Penulis: Monica Felicitas
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved