Hukum Kriminal Surabaya
2 Bersaudara Laporkan Lembaga Kursus di Pakuwon Trade Center Surabaya
#SURABAYA - Diana Gunawan dan Lienny Gunawan melaporkan lembaga khursus International Language Center (ILC) ke Polrestabes Surabaya.
Penulis: Rorry Nurwawati | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Merasa ditipu oleh lembaga khursus International Language Center (ILC), Lienny Gunawan dan Diana Gunawan melapor ke kantor Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya.
Penghuni Apartemen Water Place itu merasa ditipu oleh lembaga khursus bahasa yang berkantor di kawasan Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya.
Berbekal form pendaftaran khursus dan leaflet, Lienny Gunawan melaporkan kasus dugaan penipuan bersama dua saudaranya.
Kepada SURYA.co.id, Lienny Gunawan menceritakan awal mula kejadiannya.
Berawal ketika korban berjalan-jalan di sekitar mall, kemudian melihat sebuah lembaga khursus sedang menawarkan promosi.
Saat itu, ada promo untuk kursus tujuh bahasa yaitu Korea, Mandarin, Inggris, Prancis, Arab, Jerman, dan Jepang.
Awalnya, korban tertarik untuk mencoba selama dua bulan. Lantaran tergiur dengan banyaknya promo yang dikemas dalam paket hemat, korban pun akhirnya memilih mengikuti paket 3 tahun 6 bulan dengan biaya Rp 20 juta.
"Äwalnya mau coba dua bulan saja, tapi banyak paketan jadinya ikut langsung tiga setengah, dan lunas di awal," kata Lienny di Polrestabes Surabaya, Selasa (5/4/2016) malam.
Kemudian Lienny bersama saudaranya melakukan registrasi administrasi supaya dapat mengikuti kelas kursus di ILC, kompleks PTC Surabaya.
Saat registrasi pada Maret 2016, Lienny mendpaatkan banyak bonus mulai dari modul kursus belajar bahasa sesuai keinginan peserta serta buku panduan.
Awalnya memang berjalan sesuai harapan, namun pada bulan April peserta yang mengikuti kursus mulai banyak berkurang.
Hal ini dikarenakan banyak guru yang mulai absen dalam mengajar. Tidak hanya itu, jam khursus juga mulai berubah dengan alasan supaya mudah diatur.
Meskipun sejak awal sudah Lienny mulai protes, namun bagi sebagian peserta memilih tidak menghiraukan. Lantaran, awalnya masih dianggap wajar. "Kami anggap wajar karena mereka ini lembaga khursus baru," jelas dia.
Namun, lambat laun lembaga kursus itu mulai anyak dikomplain dari peserta maupun orangtua. Hal ini dipicu karena seringnya jadwal yang berganti-ganti tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Saat ditanyakan kepada pihak manajemen, ternyata korban mendapatkan jawaban yang mengejutkan.