Citizen Reporter

Anyer Panarukan, Napak Tilas Ujung Jejak Raden Mas Galak

1.000 km Anyer-Panarukan tuntas digarap dalam 1 tahun (1808-1809).. ribuan nyawa jadi tumbalnya, tak hanya menggores luka, namun juga membawa guna..

Anyer Panarukan, Napak Tilas Ujung Jejak Raden Mas Galak
rintahani johan pradana/citizen
Monumen 17 pilar Anyer Panarukan di Wringinanom Situbondo, jejak luka dan guna Daendels 

Reportase : Rintahani Johan Pradana

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang

 

          PRAMOEDYA Ananta Toer pernah mengabadikan sebuah jejak sejarah lewat karya sastra berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Kisah yang menjelma pada bingkai memoar itu sejatinya menggambarkan sebuah babakan kelam dalam peristiwa besar di tanah Jawa. Tak terhitung berapa jumlah nyawa melayang sebagai tumbal pembangunan jalan raya yang membentang sepanjang seribu kilo meter itu.

          Dalam tiap literatur sejarah terkait Jalan Raya Pos, awal 1808 menjadi titik mula kuasa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di Hindia. Di pundaknya dibebankan tugas untuk mempertahankan Hindia, terlebih Jawa, dari serangan pasukan Britania yang sudah menduduki kawasan Asia Tenggara. Sementara itu gubernur yang dikenal bertangan besi ini juga ditugasi untuk memperbaiki sistem administrasi.

          Langkah besar yang dilakukan oleh Herman Willem Daendels ialah memulai pembangunan jalan sebagai sarana mempermudah berbagai aktivitas. Anyer menjadi pos pertama dan Panarukan menjadi pos terakhir dari De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos yang dibangun hanya dalam waktu satu tahun, dari 1808 hingga 1809.

          Membelah hutan dan menghancurkan bebatuan cadas tentu bukan perkara mudah. Sehingga tidak sedikit nyawa yang melayang akibat kelelahan dan terserang penyakit. Namun sebuah ancaman besar berupa hukuman mati akan menimpa bila rakyat dan penguasa lokal membakang bahkan tak mau melaksanakan tugas untuk bekerja membangun jalan. Itulah alasan mengapa Daendels begitu ditakuti hingga julukan Raden Mas Galak melekat padanya.

         
Jejak di Ujung Timur

          Pemilihan Anyer dan Panarukan sebagai ujung dan pangkal dari pembangunan De Grote Postweg oleh Raden Mas Galak bukan tanpa alasan. Anyer dipilih karena menjadi lokasi strategis titik pos distribusi hasil pertanian di ujung barat. Sementara itu Gubernur Jenderal yang tugasnya berakhir pada 1811 ini memilih Panarukan sebagai jejak akhir karena wilayah ini dianggap dekat dengan Besuki yang merupakan basis perkebunan tebu serta potensinya sebagai pelabuhan kala itu.

          Kini ujung jejak yang dibangun oleh Raden Mas Galak bisa ditemukan di Desa Wringinanom. Salah satu desa yang terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Sebagaimana umumnya jalan pos lainnya, wilayah ini juga terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Sebuah monumen yang berhias tujuh belas pilar menjadi penanda jejak akhir dari jalan yang menghubungkan kota-kota di pesisir jawa yang dulu dirancang oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

“Monumen ini sebenarnya masih baru. Berdiri sekitar akhir 2014 dan memang untuk mengenang pembangunan Jalan Raya Anyer Panarukan,” terang Anandra ketika kami berdiskusi soal Jalan Pos Daendels di Monumen 1.000 Km Anyer Panarukan.

          Meski langkah Daendels dianggap sebagai sebuah kekejaman yang tak termaafkan, namun pembangunan De Grote Postweg ini justru telah mengubah beragam aktivitas perdagangan dan distribusi di Pulau Jawa menjadi lebih mudah. Paradoks di balik kisah sejarah. Peritiwa tidak hanya menggores luka, namun juga membawa guna. Seperti apa yang memang saya lihat sepanjang pantai utara Jawa, terlebih Jalan Raya Pos Daendels. Riuh tak berujung di balik tangis darah para jelata yang berkorban nyawa.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved