Citizen Reporter

Jangan Kalah, Hadapi Stres dengan Resilience

setiap era menawarkan tingkat stresnya sendiri... tapi jangan pernah menyerah pada stres, redam dengan resilience atau seni meredam stres...

Jangan Kalah, Hadapi Stres dengan Resilience
www
ilustrasi 

 

Reportase : Fransisca Stefanie Chandra
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya

HARI Jumat (29/1/2016) lalu, Pusat Konseling & Pengembangan Pribadi (PKPP)  UK Petra Surabaya mengadakan sarasehan topik aktual dengan tema resilience, seni beradaptasi di tengah situasi stres.

Sarasehan menghadirkan pembicara, psikolog Dr Frikson C Sinambela MT di ruang konferensi III Gedung Radius Prawiro lantai 10, untuk memberikan pengetahuan kepada 40 mahasiswa saat berhadapan dengan kesulitan atau kondisi yang menantang dalam kehidupan sehari-hari.  

Resilience adalah kemampuan untuk beradaptasi secara positif, bertumbuh, dan berkembang tanpa peduli pada apa yang terjadi. Hal ini penting karena setiap orang akan senantiasa berhadapan dengan kesulitan (adversity) atau kondisi yang menekan selama rentang kehidupan. Selain itu, resilience penting agar dapat membentuk orang yang tangguh sehingga dapat memanfaatkan inner strengths dan sumber daya yang dimiliki untuk bangkit kembali (rebound).

Resilience mengandung pikiran, keyakinan, sikap, dan perilaku yang dapat dipelajari dan dikembangkan. Sedangkan, stres adalah ancaman yang dirasakan dan memengaruhi emosional, fisik, atau spiritual. Tanda-tanda pikiran dan perasaan saat dis-stres antara lain sulit fokus atau sulit berkonsentrasi, mudah lupa, pengkritik, moody, mudah khawatir, mudah gentar, mudah tersinggung, suka melamun, pesimis, mudah merasa malu, dan sensitif.

“Hal ini dapat diantisipasi dengan coping, yakni sebuah proses yang dinamis. Coping bertujuan untuk menumbuhkan toleransi atau menyesuaikan diri secara emosional, mempertahankan citra diri positif, dan mempersepsi dan memahami permasalahan secara realistis,” urai Friskon C Sinambela saat sesi berlangsung.

Nah, terdapat strategi dalam menghadapi stres, antara lain olahraga, nutrisi, relaksasi, rajin berdoa dan bersyukur, suasana santai/liburan, manajemen waktu yang efektif, dukungan sosial, dan keterampilan. Dalam dunia pekerjaan, ada faktor psikologi dan lingkungan yang berkontribusi pada resilience pegawai, yakni penghargaan dan efikasi diri yang positif, evaluasi diri berpusat pada aspek internal, pemaknan kerja sebagai panggilan, kepemimpinan yang efektif, dan kemampuan untuk bersyukur.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved