Berita Sidoarjo

Sesuaikan Budget; Kiat Pengusaha Sulam Tangan Tanggulangin Bertahan di Tengah Sulitnya Ekonom

Pengusaha sulam tangan dari Tanggulangin, Indriyati, tahu benar untuk terus menyambung silaturahmi dengan pelanggannya.

Sesuaikan Budget; Kiat Pengusaha Sulam Tangan Tanggulangin Bertahan di Tengah Sulitnya Ekonom
surya/irwan syairwan
Indriyati dengan produk-produk sulam tangannya di galeri Athaya di Pperum TAS Tanggulangin 2, Kamis (14/1/2016). 

SURYA.CO.ID | SIDOARJO - Memanjakan pelanggan merupakan hakikat seorang pengusaha. Sebisa mungkin, seorang pengusaha harus menuruti keinginan pelanggannya agar bisa terus bertransaksi.

Pengusaha sulam tangan dari Tanggulangin, Indriyati, tahu benar untuk terus menyambung silaturahmi dengan pelanggannya agar usahanya tetap bertahan di ekonomi sulit. Cara yang ia tempuh adalah menyesuaikan budget yang dimiliki pelanggannya.

Pertengahan 2015 lalu usaha yang sudah digelutinya selama tiga tahun hampir saja kolaps karena krisis nilai tukar Rupiah. Ia memutar otak agar usahanya bisa bertahan di tengah krisis ekonomi.

"Pelanggan saya banyak yang ingin beli produk saya, tapi uangnya kurang. Akhirnya saya putuskan untuk menyesuaikan budget agar pelanggan tetap bisa beli barang saya," kata Indri saat ditemui Surya di Galeri Athaya di kawasan Perum Tas Tanggulangin 2, Rabu (13/1/2016).

Meski budget-nya disesuaikan bukan berarti kualitasnya diturunkan. Sebagai penyulam tangan yang aplikasinya diterapkan di produk tas, bantal, bedcover, baju, dan lainnya, ini sulamannya tetap ia nomor satukan. Adalah bahan baku produknya yang nilainya agak berkurang.

"Misal tadinya bahan tas saya pakai canvas tebal, karena budgetnya disesuaikan saya pakai yang bahannya sedikit agak tipis. Tapi untuk desain dan hasil sulaman, tetap kualitasnya tidak saya kurangi karena itu trademark saya," paparnya.

Cara yang ditempuhnya berhasil. Bahkan, ia mampu mempertahankan jumlah produksinya sama seperti hari-hari biasa, sekitar 1.000 item, meski dalam keadaan ekonomi sulit sekalipun.

Menurutnya, menjadi pengusaha harus fleksibel dengan pelanggannya. Apapun keinginan pelanggan, selama masih bisa dirasionalkan, harus dipenuhi agar uang tetap berputar.

Pilihan pasar pun sangat menentukan. Karena ia memproduksi barang sulam tangan, perempuan asli Jogja ini lebih banyak membidik orang-orang asing.

Baginya, orang asing lebih menghargai produk kerajinan yang dibuat dengan tangan dan eksklusif.

"Sekitar 40 persen pelanggan saya itu orang asing. Mereka suka barang yang fungsional tapi juga ekslusif dan produk handmade. Mereka tak segan mengeluarkan uang banyak selama barang yang dibelinya berguna dan tak ada duanya," ucapnya.

Dari caranya bertahan dari keadaan ekonomi yang sulit, Indri yang tadinya seorang guru ini tetap bisa mempertahankan laba bersihnya di kisaran Rp 15 juta per bulan. Pun ilmu yang dimilikinya ia bagi kepada warga sekitar.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved