Berita Properti

Produsen Semen di Indonesia Terus Bermunculan, Tahun Ini Bertambah Empat Perusahaan

Datangnya empat pemain baru itu jelas memanaskan persaingan dengan sejumlah produsen semen yang sudah eksis di Indonesia.

Produsen Semen di Indonesia Terus Bermunculan, Tahun Ini Bertambah Empat Perusahaan
SURYA.co.id/Sugiharto
Head of Enginering & Contruction Project, Heru Indra (kiri) menjelaskan perbedaan teknologi Pabrik Semen Gresik di Rembang, Jateng dengan pabrik semen lainnya, Rabu (13/1/2016). 

SURYA.co.id I SURABAYA - Persaingan industry semen bakal semakin ketat. Sejumlah produsen baru mulai bermunculan dan beroperasi di sejumlah wilayah di Indonesia tahun 2016 ini.

Diantaranya, Semen Merah Putih yang kapasitas produksinya mencapai 4,0 mio ton, Semen Anhuicoach dengan kapasitas 1,7 mio ton, Siam Cement 1,8 mio ton, dan Semen Pan Asia berkapasita 1,8 mio ton.

Datangnya empat pemain baru itu jelas memanaskan persaingan dengan sejumlah produsen semen yang sudah eksis di Indonesia.

Seperti Semen Indonesia yang berkapasitas 29 mio ton, Semen Andalas 1,6 mio ton, Semen Baturasa 2,0 mio ton, Indo Cement 25,9 mio ton, Holcim dengan kapasitasnya 12,1 mio ton, Semen Bosowa 6,0 mio ton, Semen Kupang 0,5 mio ton, Semen Juishin 2,0 mio ton, dan Semen Puger yang memiliki kapasitas 0,3 mio ton.

Dari semua produsen itu, pasar semen di Indonesia masih dikuasai Semen Indonesia. Market Share perusahaan plat merah ini mencapai 42 persen.

“Persaingan memang semakin ketat, khususnya di Pulau Jawa yang kebutuhan semennya paling tinggi. Ada 11 pemain di Jawa,” ujar Sigit Wahono, Kepala Biro Komunikasi Perusahaan PT Semen Indonesia.

Untuk menghadapi ketatnya persaingan, pihaknya pun telah melakukan sejumlah langkah strategis. Yakni dengan terus melakukan improvement dan meningkatkan kapasitas pabrik-pabrik existing, serta membangun pabrik baru untuk menambah kapasitas produksi.

Peningkatan kapasitas pabrik existing itu seperti yang dilakukan di pabrik Tuban I, II dan III. Dari sebelumnya kapasitas produksi hanya sekitar 7.000 ton per hari, sekarang sudah meningkat menjadi 9.000 ton per hari.

“Pembangunan pabrik baru, diantaranya adalah Pabrik Rembang dan pabrik di Indarung, Sumatera Barat,” ungkap Sigit.

Adanya pabrik-pabrik baru dan pembangunan 25 packing plant untuk mendekati konsumen, juga dapat mengurangi biaya distribusi. Seperti diketahui, ngkos distribusi menjadi salah satu beban berat untuk menentukan harga semen. “Sehingga semakin ditekan biaya distribusi, maka harga semen juga bisa lebih kompetitif,” tukasnya.

Setelah pasar semen di tahun 2015 mengalami penurunan cukup tajam, pada 2016 ini PT Semen Indonesia lebih focus menggarap pasar domestic. Tapi tetap menjaga pasar eksport yang sudah dijalankan selama ini. Termasuk ekspor ke Sri Lanka, Vietnam, Singapura, Filipina dan Timor Leste.

“Yang terbaru, kami juga sedang menjajagi pontensi ekspor ke Australia,” sambungnya.

Penulis: M Taufik
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved