Berita Pamekasan

Bupati Pamekasan Larang Kasek Rebutan Murid

“Jika sekolah kekurangan murid, lalu kasek mencari murid dengan rebutan sudah tidak benar. Dan tindakan ini kami larang,” kata Syafii, yang saat itu m

Bupati Pamekasan Larang Kasek Rebutan Murid
muchsin
Bupati Pamekasan, Akhmad Syafii dan Wakilnya, Khalil Asyari, saat meninjau TPA di Desa Angsana, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura, Selasa (9/7/2013) silam. 

SURYA.co.id |PAMEKASAN – Bupati Pamekasan, Achmad Syafii, minta kepada seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPT) Cabang Pendidikan (Cabdin) di Pamekasan, melarang semua kepala sekolah (Kasek) mencari murid dengan cara tidak sehat saling berebut antar sekolah.

Bupati menilai, belakangan ini beberapa sekolah yang kekurangan murid, pihak kasek rebutan mencari murid, dengan berbagai cara, seperti memberikan seragam gratis kepada murid baru, uang tali asih dan iming-iming lain.

Larangan ini disampaikan, saat bupati dan forum pimpinan daerah (Forpimda) Pamekasan, menggelar pertemuan dengan seluruh kepala UPTD Cabdin Pamekasan, penilik sekolah se Pamekasan, kasek se Kecamatan Pamekasan, di SDN Lemper 3, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Sabtu (19/12/2015) malam.

Menurut bupati, pemerintah membangun sekolah itu untuk melayani masyarakat yang menempuh pendidikan, bukan untuk mencari murid.

“Jika sekolah kekurangan murid, lalu kasek mencari murid dengan rebutan sudah tidak benar. Dan tindakan ini kami larang,” kata Syafii, yang saat itu menggelar bupati mengajak bangun desa (Bunga Bangsa) ke Desa Klampar, Kecamatan Proppo.

Achmad Syafii menjelaskan, jika sekolah yang didirikan kemudian sekarang kekurangan murid, ini bisa jadi kualitas di lembaga pendidikan, termasuk proses-belajar mengajarnya sudah tidak bagus lagi dan salah.

Karena itu, kalau jumlah murid di suatu sekolah sudah tidak memenuhi standar, tidak perlu menempuh berbagai cara, hanya untuk mendapat murid dengan mengenyampingkan prosedur, hingga berebut. Sebaiknya sekolah sekolah itu ditutup saja dan diregrouping (digabung dengan sekolah lain.red)

Diungkapkan, bila terdapat sekolah yang jumlah muridnya kurang ketentuan dan sudah tidak mungkin dipertahankan lagi, maka sekolah yang bersangkutan diregrouping saja.

Dipaparkan, beberapa waktu lalu, terdapat sekolah yang di barat dan di timur bertengkar. Bukan hanya muridnya, tapi juga masyarakatnya. Kemudian unjuk rasa menolak regrouping.

“Setelah kami teliti, siapa yang unjuk rasa. Ternyata motornya itu makelar, orang yang suka mencari murid. Sebab kalau sekolah itu diregrouping, makelarnya tidak punya pekerjaan. Ini kan sudah tidak benar,” ujar Achmad Syafii.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Penulis: Muchsin
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved