Citizen Reporter

Ketika Panji Semirang Hidup di Hajatan Kentrung Tiga Generasi

di usia senja, mbah Gimah tak hendak berhenti memainkan kentrung... dialah seniman sejati kentrung yang bersetia hingga kini...

Ketika Panji Semirang Hidup di Hajatan Kentrung Tiga Generasi
dokumentasi sedyo rukun tulungagung
Mbah Gimah, seniwati kentrung Tulungagung 

 

 

 

Oleh : Sahrul Romadhon
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang
sahrul_romdhon@yahoo.com

AJANG mantenan atau pernikahan di Desa Pucung, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Minggu (22/11/2015) itu, terasa sungguh keunikannya. Utamanya kehadiran Mbah Gimah, maestro kentrung asli Tulungagung, pimpinan Kentrung Sedyo Rukun.

Sang maestro, tidak hadir sendiri. Ia bersanding dengan kader muda kentrung dari sanggar teater Gedhang Godok dari SMPN 2 Campur Darat, Tulungagung dan mahasiswa pelestari kentrung dari Komunitas Kluntrang-kluntrung, Malang. Kolaborasi ketiganya malam itu mementaskan lakon Panji Semirang.  

Kesenian tutur ini dimainkan seorang dalang dengan alur cerita saling menyambung. Yayak, seniman lokal, hadir sebagai sutradara, membesut pentas kentrung lintasgenerasi ini terasa sungguh keunikannya.

Di awal kisah pentas menghadirkan sanggar Gedhang Godok SMPN 2 Campur Darat. Mereka memainkan segmen Galuh Candra Kirana yang menderita karena ulah ibu tirinya. Raja Dhaha, ayah kandung Galuh Candra Kirana, tak mampu berbuat banyak karena sihir si ibu tiri. Kisah berakhir ketika Galuh Candra Kirana meninggalkan kerajaan setelah bersikeras mempertahankan golek Kencana pemberian Inu Kertapati.

Kisah kedua, pentas diisi Komunitas Kluntrang-kluntrung dalam segmen Galuh Candra Kirana yang menyaru sebagai lelaki berjuluk Panji Semirang dan babat alas mendirikan Kerajaan Asmarantaka.

Kisah berantai ini pun ditutup manis dengan penampilan kentrung Sedyo Rukun Mbah Gimah, maestro kentrung yang masih setia menekuni kentrung di usia senjanya.

Apresiasi warga yang setia menonton sampai pertunjukan selesai sungguh melegakan. Menunjukkan kentrung masih mendapat tempat di hati masyarakat. Kiprah mereka semua sudah sepatutnya diapresiasi.

Pihak yang seharusnya tertampar dari suksesnya pertunjukan ini adalah para pemegang amanat rakyat, yaitu lembaga yang bergerakdi bidang kebudayaan. Harusnya inisiatif pertunjukan hadir dari lembaga ini.

Mengutip catatan dari sang sutradara untuk direnungkan, semoga berumur panjang, meski jangan abadi, terima kasih telah diberi kesempatan berpartisipasi dalam pergelaran kentrung tiga generasi ini. 

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved