Lipsus Membangun Madura

Kaki Suramadu

"Kaki Suramadu itu bukan pasar. Ini hanya insidentil, yang transaksi jual belinya bisa kapan saja. Karena itu, dibutuhkan kesabaran," kata Amsori.

Kaki Suramadu
foto: Kompas.com/achmad faizal
Pemudik melewati penyerberengan Ujung -Kamal terpantau sepi, Jumat (17/7/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebelum ada Jembatan Suramadu, Pelabuhan Kamal menjadi pintu gerbang menuju Pulau Madura. Karena itu, perekonomian di Kamal saat itu menggeliat.

Kini, ekonomi di sana seakan mati suri, setelah gerbang Madura berpindah ke Jembatan Suramadu.

Kini mimpi tertuju pada Suramadu. Namun, mimpi itu ternyata juga tak berlangsung lama. Sejak dibukanya Suramadu, pada pertengahan 2009, masyarakat di kaki Suramadu, mencoba peluang ekonomi baru.

Mayoritas warga Desa Pangpong, Kecamatan Labang, membuka usaha di akses Jembatan Suramadu.

Mayoritas mereka menjual suvenir, berupa kaos, pakaian, aksesori, dan oleh-oleh dari Madura. Namun, kini para pedagang lesu, karena omzet mereka turun drastis.

Di awal-awal Suramadu beroperasi, jalan akses menuju jembatan menjadi primadona. Para pedagang ketiban rezeki nomplok karena banyaknya pengunjung.

"Kalau dulu menyenangkan, uang Rp 500.000 gampang didapat," kata Hj Mimah, pedagang di kawasan Suramadu.

Mimah punya usaha toilet umum. Belum lagi usaha jualan makanan dan minuman miliknya. "Dulu hanya dari kencing saja, bisa dapat Rp 500.000," kata Mimah.

Karena keuntungan yang luar biasa itu, Mimah bahkan berani membangun musala, satu tahun lalu, untuk menarik pengunjung. "Membangun musala itu saya habis Rp 70 juta," kata Mimah.

Namun, kenekatan Mimah tak berbanding lurus dengan keuntungan.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved