Hari Sumpah Pemuda

Nasionalisme Indonesia Juga Milik Warga Keturunan Arab

#SURABAYA - Peringatan Sumpah Pemuda Keturunan Arab akhirnya digelar di Surabaya. Beberapa pekan lalu, agenda ini sempat batal karena ada kendala.

Nasionalisme Indonesia Juga Milik Warga Keturunan Arab
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
KAMPUNG ARAB - Putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo dan mantan Wakil Walikota Surabaya, Arif Afandi berjoget dengan iringan musik gambus saat menghadiri Festival Kampung Arab di kawasan Jl Sasak, Minggu (1/11/2015). Kegiatan tersebut digelar memperingati Sumpah Pemuda Keturunan Arab. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Nasionalisme bukan hanya milik warga pribumi asli. Masyarakat keturunan negeri lain yang tinggal di Indonesia pun memiliki hak yang sama. Termasuk masyarakat keturunan Arab.

Dalam Peringatan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang digelar Minggu (1/10/2015), hal itu ingin kembali disuarakan. Warga keturunan Arab ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diperoleh 70 tahun silam tak bisa lepas dari campur tangan nenek moyang mereka.

Peringatan Sumpah Pemuda Keturunan Arab akhirnya digelar di Surabaya. Beberapa pekan lalu, agenda ini sempat batal karena ada kendala. Mulai pagi hingga malam, dua runtutan kegiatan besar diikuti oleh para warga keturunan Arab di Kampung Arab yang berada di sekitar daerah Makam Sunan Ampel. Pertama, diskusi yang mengangkat tema peran warga keturunan Arab dalam meraih kemerdekaan.

Nabiel A Karim Hayaze, pengamat budaya Arab yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi itu mengatakan, generasi muda saat ini banyak yang tak mengetahui peran keturunan Arab dalam nasionalisme Indonesia. Ironisnya, ketidaktahuan itu tak hanya terjadi pada warga keturunan pribumi, tapi juga warga keturunan Arab.

Padahal, banyak peran warga keturunan Arab yang tak tercantum dalam buku sejarah di sekolah-sekolah. Tak hanya Abdurrahman Baswedan, tokoh yang memelopori diadakannya Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Nabiel juga menyebut nama-nama lain seperti Salim Ali Maskati. Dia adalah mentor AR Baswedan di bidang jurnalistik.

Seperti diketahui, selain aktif di bidang politik melalui Partai Arab Indonesia (PAI), AR Baswedan juga seorang wartawan. “Nah, Salim Ali Maskati adalah wartawan pertama di Indonesia yang merupakan warga keturunan Arab,” katanya.

Tokoh lain, lanjut Nabiel, adalah Faradj Martak. Dalam cerita sejarah, namanya nyaris tak pernah disebut. Padahal, dialah salah satu orang yang mengusahakan pembelian rumah yang dipakai Soekarno untuk menyusun naskah proklamasi. Nabiel khawatir, jika cerita itu tak kembali dibumikan, generasi mendatang akan melupakannya.

“Saat ini saja banyak orang yang menggenal AR Baswedan sekadar nama. Tapi tidak tahu perannya. Bagaimana dengan generasi sepuluh tahun mendatang?,” ungkap penulis buku AR Baswedan, Revolusi Batin Sang Perintis itu.

Acara kedua yang digelar setelah diskusi adalah acara seremonial dan bazar yang digelar sekitar pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Ketua Panitia Abdullah Batati menjelaskan, kegiatan bazar sebenarnya sudah rutin diadakan. Namun, selama ini peringatan tak pernah menyinggung tentang peran keturunan Arab terhadap kemerdekaan Tanah Air. Acara kebanyakan berisi tentang budaya Arab saja.

Dalam acara seremonial, ada orasi dan pembacaan naskah sumpah pemuda. “Ini peringatan terbuka pertama setelah 81 tahun. Sebelumnya, pada tahun 1956 pernah digelar di Solo. Tapi pertemuan berlangsung hanya untuk internal karena kondisi tidak memungkinkan,” ungkap dia.

Harapannya, kegiatan tersebut bisa memantik optimisme bagi warga keturunan Arab. Sebab ia mengaggap selama ini ada semacam pagar antara warga keturunan Arab dan warga pribumi soal nasionalisme. Warga keturunan Arab, lanjut dia, sering merasa canggung saat berbicara soal kemerdekaan. Padahal, sebenarnya peran nenek moyang mereka cukup besar.

Jika sesuai rencana, kegiatan semacam ini akan digelar rutin tiap tahun. Masa yang mengikuti juga diharapkan lebih banyak. “Kalau bisa tak hanya di Surabaya. Tapi di kota-kota lain. Sebab kami ingin skalanya bisa nasional,” ungkap dia. 

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved