Batik Madura

Ini Penyebab Anjloknya Penjualan Batik Madura 2 Tahun Terakhir

Perputaran uang dalam satu bulan bisa mencapai Rp 8 miliar atau Rp 96 miliar per tahun dari nilai jual rata - rata Rp 200 ribu per lembar kain batik.

Ini Penyebab Anjloknya Penjualan Batik Madura 2 Tahun Terakhir
a faisol
Pengunjung Galeri Batik Tresna Art di Madura, Tirza asal Bandar Lampung (kanan) tengah mempraktekkan melukis batik di sehelai kain putih, Minggu (1/11/2015) 

Perempuan berkulit sawo matang itu mengaku baru kali ini berkunjung ke Pulau Madura karena ingin melihat Jembatan Suramadu sekalian berunjung ke galeri batik.

"Keluarga sudah dengar soal Madura'>batik Madura, terutama mama. Kalau saya hanya ikut saja sekalian berlibur. Bagus memang batik di sini," tandasnya sambil memegang kain dan canting (alat melukis batik).

Sementara itu, Kabid Bina Sarana dan Produksi Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bangkalan, Iskandar Ahadiyat menyatakan, penjualan batik di awal - awal pasca diresmikannya Jembatan Suramadu mengalami peningkatan yang signifian.

"Data yang kami dapat dari pengepul dan pedagang batik, trend penjualan memang meningkat di awal ada Jembatan Suramadu. Stelah itu stagnan," katanya.

Dari jumlah total 1.500 pengrajin batik yang tersebar di Kecamatan Tanjung Bumi, Kota, Kokop, Modung, dan Burneh bisa menghasilkan 10 ribu lembar kain batik per minggu.

Dengan kapasitas produksi itu, perputaran uang dalam satu bulan bisa mencapai Rp 8 miliar atau Rp 96 miliar per tahun dari nilai jual rata - rata Rp 200 ribu per lembar kain batik.

Guna meningkatkan daya beli terhadap batik, Pemkab Bangkalan telah melakukan investasi senilai Rp 1,3 miiar terhadap 19 unit usaha industri kecil menengah di Kecamatan Tanjung Bumi.

"Kami juga akan membuat centra batik di kawasan rest area sekaligus melakukan penataan terhadap para PKL di Suramadu, promosikan di kantor perwakilan dagang provinsi, dan promosi ke luar daerah melalui pameran," jelas Iskandar Ahidayat.

Ia menjelaskan, kendala yang tengah dihadapi saat ini dikarenakan harga Batik Madura kalah bersaing dengan batik lainnya seperti Batik Pekalongan yang ketersediaan bahan bakunya melimpah.

"Selama ini pengrajin beli bahan baku (kain) dari luar kota. Sehingga harga tidak bisa bersaing. Kalau di Pekalongan punya pabrik tekstil sendiri," pungkasnya. 

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help