Surya/

Batik Madura

Ini Penyebab Anjloknya Penjualan Batik Madura 2 Tahun Terakhir

Perputaran uang dalam satu bulan bisa mencapai Rp 8 miliar atau Rp 96 miliar per tahun dari nilai jual rata - rata Rp 200 ribu per lembar kain batik.

Ini Penyebab Anjloknya Penjualan Batik Madura 2 Tahun Terakhir
a faisol
Pengunjung Galeri Batik Tresna Art di Madura, Tirza asal Bandar Lampung (kanan) tengah mempraktekkan melukis batik di sehelai kain putih, Minggu (1/11/2015) 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Menjelang akhir tahun 2009 atau beberapa bulan setelah diresmikannya Jembatan Suramadu, penjualan batik khas Madura terdongkrak naik. Namun kini tren penjualan batik telah menurun dalam dua tahun terakhir ini.

Kabupaten Bangkalan sebagai wilayah terdekat Suramadu merupakan penghasil batik berkulitas. Seperti Batik Gentongan, karya terbaik jemari kaum ibu dari Kecamatan Tanjung Bumi.

Gentongan itu merupakan proses pewarnaan dari bahan alami yang dilakukan dengan cara merendam kain ke sebuah gentong berukuran besar. Satu warna pada motif batik bisa memakan waktu rendam selama satu bulan.

Pembuatan sehelai kain Batik Gentongan bisa memakan waktu hingga enam bulan atau bahkan satu tahun. Karena itulah, kain Batik Gentongan tidak bisa diproduksi secara masif.

Eksistensi Batik Gentongan kini mulai terganggu dengan keberadaan batik printing yang bisa diproduksi dengan cepat. Namun kualitas tidak sebagus Batik Gentongan.

Beragam cara dilakukan para pengusaha batik untuk bertahan dari intervensi batik printing. Seperti yang dilakukan galeri Tresna Art yang khusus menjual Batik Gentongan.

Galeri yang berdiri sejak 1989 di Jalan KH Moh Cholil itu sengaja mendatangkan para pengrajin Batik Gentongan dari Kecamatan Tanjung Bumi di hari Sabtu dan Mingu untuk memberi pelatihan dan mengenalkan pembuatan batik tulis terhadap pengunjung.

"Saya tidak hanya sebatas mencari keuntungan semata namun lebih kepada melestarikan budaya batik Bangkalan. Maka itu, saya datangkan pengrajin agar pengunjung bisa melihat langsung," ungkap pemilik Galeri Tresna Art, Supik Amin, Minggu (1/11/2015).

Karena itulah, Bu Supik, begitulah ia akrab disapa, tetap bertahan dengan batik tulis Gentongan ketika para pengusaha batik lainnya beralih ke batik printing.

"Batik tulis Gentongan mempunyai pangsa pasar sendiri. Para pengagum batik tradisional sangat peka, batik tulis dan batik printing sangat beda kualitasnya," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help