Riven Terobsesi Bikin Toko Kue dari Tepung Talas

Dengan memanfaatkan talas yang banyak terdapat di pinggir-pinggir kali, saya ingin membuat kue dengan harga yang lebih terjangkau

SURYA.CO.ID | SURABAYA – Ignasius Riven Boi, Mahasiswa Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Dr Soetomo Surabaya, memanfaatkan talas yang mempunyai nilai gizi tinggi menjadi substitusi terigu.

“Di kampung asal saya NTT (Nusa Tenggara Timur), talas tak ada nilai jualnya. Saking banyaknya, sampai biasa dibuat makan babi,” kata Riven, Kamis (15/10/2015).

Atas dasar itu, untuk tugas akhir kuliahnya, Riven ingin bereksperimen dengan talas. Setelah menemukan kecocokan karekter talas dengan gandum (bahan utama pembuatan terigu), ia segera mulai bereksperimen.

Riven mengatakan, kandungan protein, karbohidrat, dan lemak kedua bahan itu memang tak sama. Kandungan pada gandum jauh lebih tinggi. Untuk itu, Riven perlu menambahkan kacang hijau dan pisang gepok sebagai bahan campuran tepung talas.

Jika tiga bahan itu dikombarasikan, kata dia, kandungan gizinya bisa identik dengan gandum. Namun Riven dibuat puyeng oleh lendir penyebab gatal yang ada pada talas.

Gara-gara kandungan itu, kalau pun bisa jadi tepung, pengunaannya akan percuma. Untuk adonan kue pun tepung talas yang masih mengandung lendir, bisa membikin sang penikmat merasa gatal di lidah.

”Untung saya nemu penawarnya yakni dengan direndam air garam sekitar 1,5 jam,” terangnya.

Pembuatan tepung talas dimulai dengan mengeringkan pisang potong, talas, dan kacang hijau. Pengeringan ini bisa memakan waktu sekitar sehari penuh. Maklum, kandungan air bahan-bahan itu harus dipastikan nol persen.

Setelah itu, ketiga bahan dideplok dan disangrai sekitar setengah jam. Agar tepung benar-benar halus, proses terakhir yakni pengilingan ulang.

Pada dasarnya, tepung talas bisa dipakai untuk apa saja. Sama seperti tepung terigu. Namun, menurut pria kelahiran Manggarai Barat itu, tepung talas paling cocok untuk membuat kue.

Ia terobesesi, setelah gelar sarjana diraih, akan pulang ke kampung halaman dan membuka toko kue. Tujuannya, kata Rivan, agar perekonomian di daerah asalnya meningkat.

”Kebetulan bisnis semacam itu di NTT belum banyak. Harga tepung terigu mahal di sana. Dengan memanfaatkan talas yang banyak terdapat di pinggir-pinggir kali, saya ingin membuat kue dengan harga yang lebih terjangkau,” harap pria kelahiran 22 November 1989 itu.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved