Berita Tulungagung

Nenek Cacat Hidup Sebatangkara, Anaknya 10 Tahun Tak Pulang

Sejak kakinya mengalami infeksi, Mbah Simpen tidak dapat lagi berjalan. Ia terpaksa ngesot. Hidupnya tergantung pada pemberian orang. Rumahnya reot.

Nenek Cacat Hidup Sebatangkara, Anaknya 10 Tahun Tak Pulang
didik mashudi
SEBATANGKARA - Mbah Simpen, nenek renta dan cacat kaki yang hidup sebatangkara di rumah gubuknya, Tulungagung, Jumat (4/9/2015). 

SURYA.co.id | TULUNGAUNG - Semangat hidup Mbah Simpen (80) patut diacungi jempol. Meski hidup sebatangkara, perempuan renta itu tetap bersemangat menghabiskan hari tuanya.

Setiap hari Mbah Simpen juga melakukan aktifitas rutin seperti bersih-bersih gubuknya dan memasak. Dia memasak nasi dan sayur pemberian para tetangga dan donatur.

"Ini tadi baru memasak nasi dan sayur," ungkap Mbah Simpen dalam bahasa Jawa saat ditemui SURYA.co.id di rumahnya, Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jumat (4/9/2015).

Sebenarnya Mbah Simpen punya dua orang anak dari hasil pernikahan dengan suaminya. Satu anaknya sudah meninggal dunia, dan satu anaknya yang lain kabarnya kini bekerja di Kalimantan.

Namun yang sangat disayangkan sudah sekitar 10 tahun ini sang anak tak pernah lagi datang menjenguk orangtuanya.

"Sudah lebih dari 10 tahun anaknya tak pernah pulang lagi," ungkap Sriyanah (50) tetangga Mbah Simpen.

Mbah Simpen kini praktis hidup menyendiri setelah ditinggal menikah lagi suaminya 15 tahun silam. Namun tak lama setelah suaminya menikah lagi kemudian meninggal.

Karena sudah renta, tidak memungkinkan lagi Mbah Simpen bekerja. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan donatur.

Para tetangga juga sudah maklum dengan kondisinya. Sehingga setiap hari ada saja yang memberikan bantuan beras dan bahan makanan.

Pemerintah desa juga rutin membantu beras miskin. Namun Mbah Simpen tidak terdaftar sebagai peserta Jamkesmas, sehingga tidak bisa berobat gratis di puskesmas dan rumah sakit.

Halaman
12
Penulis: Didik Mashudi
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help