Citizen Reporter

Umak Arema? Yuk Napak Tilas Jejak Basa Walikan Ngalam

umak itreng kadit se? nek kadit itreng yo ayas osi maklum sam... Kalau Anda Arema asli, pasti langsung bisa mahfum menyimak obrolan tersebut...

Umak Arema? Yuk Napak Tilas Jejak Basa Walikan Ngalam
citizen/nurenzia yannuar
Promo dalam boso walikan Malang 

Catatan  Nurenzia Yannuar
Pengajar di Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang

COBA simak percakapan berikut ini:

 “Ate nangdi sam?”
“Nang hamure Yanto, kidae ibar.  Ente kadit oket ta?”
“Ayas gak diundang.  Kidae sing endi?”
“Yayuk.  Sing biyen tau idrek ndik atrakaj”  *)

Percakapan tersebut akan dengan mudah dimengerti oleh arek-arek asli Malang. Tetapi belum tentu orang yang berasal dari daerah lain akan memahaminya dengan cepat. Bahasa yang dipergunakan memang khas kota dingin ini, warga setempat biasa menyebutnya basa walikan.

Bahasa yang umumnya dipergunakan di konteks informal ini pada dasarnya adalah bahasa Jawa dialek Malang yang dibumbui kata-kata yang dieja terbalik (walikan). Kata-kata walikan tersebut diambil dari perbendaharaan kata bahasa Jawa dan bahasa Indonesia penuturnya. Kadang dijumpai kata-kata dari bahasa Inggris, seperti woles dari kata slow.

Tak seperti bahasa gaul lainnya yang biasanya hanya bertahan selama satu generasi, basa walikan Malang sudah dipergunakan secara turun-temurun hampir selama empat generasi. Konon, bahasa yang satu ini bermula dari sejarah perjuangan warga Malang selama masa perang melawan Belanda dan Jepang tahun 1940an.

Seiring berjalannya waktu penggunaannya menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, tentu saja penggunaannya mengalami perubahan dan pergeseran antarjaman dan generasi.

Beberapa tahun terakhir ini sudah mulai tampak usaha dan semangat warga Malang untuk melestarikan penggunaan basa walikan. Bagi beberapa generasi muda, penggunaan bahasa ini identik dengan sepakbola dan stadion. Mereka mengaku, basa  walikan lebih banyak digunakan ketika mereka berkumpul dengan sesama pendukung Arema di Stadion Kanjuruhan.

Namun tak sedikit yang mengaku, basa walikan sering digunakan di berbagai ranah lainnya, seperti di tempat nongkrong, di jalan, di rumah, bahkan di kampus dan di kantor.

Upaya pelestarian dan pengenalan basa walikan ternyata juga memanfaatkan pengembangan teknologi dan internet. Di Twitter dan Facebook misalnya, banyak akun yang mendedikasikan eksistensinya sebagai sarana arek Malang berkomunikasi dengan basa walikan.

Mereka menyajikan info-info terkini menggunakan basa walikan, dan follower mereka pun merespons dengan menggunakan bahasa yang sama.

Salah satu fan page yang paling ramai di Facebook adalah Arema Club (Pencinta Malang dan Boso Walikan), yang sampai saat ini sudah diikuti sekitar 60.000 pengguna Facebook. Sesuai namanya, page ini sangat aktif memberikan info terkait Malang dan sukses menjadi sarana arek Malang cangkruk dan ngobrol dalam basa walikan.

Semangat basa walikan juga tak luput dari perhatian para pebisnis. Di berbagai sudut kota banyak dijumpai toko-toko atau tempat usaha yang menggunakan basa walikan sebagai nama usahanya. Sebagai contoh, ada warung di Jl Mayjend Panjaitan, Warung Nakam Malam, dan toko di daerah pasar besar yang menulis Jual Seragam Halokes.

Bukan hanya itu, banyak juga usaha yang menawarkan basa walikan sebagai bagian dari produk mereka. Ada Walikan Malang, Soak Ngalam, dan Oyisam Clothing, yang kesemuanya menawarkan berbagai produk kaos dan cinderamata khas Malang yang mengandung tulisan-tulisan cerdas dan humoris dalam basa walikan. Singkat kata, penggunaan basa walikan di Malang masih sangat populer dan harus tetap dijaga supaya tetap lestari.

Saat ini saya tengah menulis disertasi sebagai bagian dari studi saya di Universitas Leiden, Belanda, terkait penggunaan basa walikan. Tujuannya sebenarnya sederhana, yaitu menelusuri sejarah basa walikan dan mendokumentasikan penggunaannya di masa kini di berbagai lapisan masyarakat.

*) Contoh yang disampaikan Drs Rudy Satrio Lelono, seniman, pemerhati budaya Malang

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved