Citizen Reporter

Turki, Erdogan, dan Inspirasi untuk 70 Tahun Indonesia

tak perlu malu berguru pada Turki, negara yang sanggup bangkit dari keterpurukan dan menjadi adidaya di Eropa...

Turki, Erdogan, dan Inspirasi untuk 70 Tahun Indonesia
istimewa
Masjid Aya Sofia 


Catatan Agastya Harjunadhi

Presiden Aliansi Pemuda Islam Indonesia/Sekjen Young Islamic Leaders
@agastyaharjuna | fb.com/aharjunadhi


BEBERAPA
kali mengunjungi Turki, meski ingin, tidak pernah saya bisa bertemu Erdogan, Presiden Turki. Pertemuan, berjabat tangan dan bisa berfoto bareng Erdogan, justru terjadi di Indonesia, pekan lalu. Luar biasa bahagia.

Bukan tanpa alasan saya mengagumi Erdogan. Saya mulai tertarik dengan dunia kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan itu tahun 2006. Memperhatikan setiap pemimpin kontemporer di dunia. Dari sang orator Soekarno hingga sosok teladan HOS Cokroaminoto. Juga, Bung Hatta, Muhammad Natsir, Buya Hamka, dan lain-lainnya.

Khusus Erdogan, saya mengenalnya dari media sejak 2010 ketika ia menjabat Perdana Menteri Turki periode kedua. Pemimpin Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP) Partai Keadilan dan Pembangunan.

Dikutip dari situs www.rissc.jo The 500 Most Influential Muslims 2010, Erdogan terpilih sebagai tokoh muslim kedua paling berpengaruh di dunia. Majalah TIME New York menobatkannya sebagai orang paling berpengaruh tahun 2011.

Pemimpin Turkey yang pro-Islam, ini telah sukses membangun negaranya sebagai negara adidaya. Banyak yang berharap ia menjadi teladan bagi pemimpin negara Arab lainnya, begitu tulis Times.

Saya semakin tertarik dan antusias mengikuti kepemimpinan Erdogan. Turki yang dulu adalah negara paling sekuler di dunia dengan julukan The Sick Man of Europe karena berbagai gejolak ketidakstabilan politik, ekonomi, dan lainnya secara sunyi telah mampu ia ubah menjadi negara adidaya stabil, mendunia dan sehat. Rakyat Turki pun sangat mendukung dan mencintainya.

GDP Turki saat ini mampu menyaingi Jerman dan perkembangan perekonomian Turki melesat menjadi peringkat 16 dari 20 negara yang memiliki kekuatan ekonomi terkuat (G-20) di dunia. Kabarnya kini telah naik menjadi peringkat kelima. Erdogan berhasil membangun Turki dalam kurun waktu dua periode kepemimpinannya sebagai perdana menteri dengan sangat fantastis.

Erdogan juga sangat tak suka dengan stigma terorisme yang diberikan pada dunia Islam, padahal umat Islam justru selalu menjadi korban. Erdogan sangat peduli dengan kemanusiaan. Ketegasannya dalam prinsip dan identitas yang kuat ini membuatnya disegani lawan dan kawan.

Sejak itulah saya bersemangat bertemu dengannya. Kunjungan Erdogan ke Indonesia kali pertama sebagai presiden justru membawa cerita lain. Dengan izin Allah alhamdulillah saya berhasil menemui beliau sesaat sebelum berangkat menuju Pakistan.

 

Inspirasi untuk 70 Tahun Indonesia

Indonesia sangat mampu dan patut meneladani Turki. Indonesia yang juga terletak pada geografis yang strategis sebagaimana Turki. Indonesia juga memiliki sejarah yang tak kalah hebatnya. Jika Turki memiliki Kesultanan Utsmani, Indonesia pernah berjaya kerajaan-kerajaan di bawah pemimpin-pemimpin besar masa lalu.

Jika Turki memiliki banyak ulama seperti Said Nursi Badiuzzaman dengan tafsirnya Risalah An Nuur, Indonesia juga memiliki segudang ulama yang salah satunya adalah Buya Hamka dengan Tafsir Al Azharnya.

Tentu semangat mengembalikan kejayaan Indonesia selalu ada dalam dada. Inspirasi dari Turki, pantas dijadikan role model kebangkitan dan kejayaan Indonesia menyongsong kemerdekaan ke 70 tahun ini. Semoga dari rahim ibu pertiwi, lahir pemimpin seperti Erdogan.

 


 

Tags
Erdgan
Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved