Terminal Purabaya

Solo Berani Gratiskan Toilet Terminal, Kapan Purabaya?

"Itu masukan. Tapi ingat, di Solo masih ada peron atau jasa ruang tunggu. Di Bungur gratis," kata Irvan.

Solo Berani Gratiskan Toilet Terminal, Kapan Purabaya?
faiq
Papan Gratis toilet di Terminal Tirtonadi Solo. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terminal Tirtonadi Solo kini berani menggratiskan setiap penumpang yang ke toilet. Setiap orang yang ke kamar kecil ini tak lagi dibebani biaya masuk kamar kecil. Mereka gratis untuk buang hajat di tempat pemberangkatan kendaraan umum tersebut.

Belakangan, biaya tanpa karcis saat masuk ke toilet Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo mulai dikeluhkan. Sekali masuk untuk buang air kecil di Terminal Bungurasih ini dikenakan tarif Rp 2.000. Tarif ini biasanya ditulis tangan di dalam toilet.

Ada seorang penjaga toilet yang duduk sambil terus mengawasi dari "front office" toilet. Penumpang harus menyerahkan uang Rp 2.000 tersebut itu kepada penjaga ini. "Mau saja bayar. Tapi kok bau pesing dan kotor," keluh Wardoyo, salah satu penumpang, Minggu (9/8/2015).

Namun tidak sedikit calon penumpang yang kini mulai membandingkan dengan palayanan di Terminal Tirtonadi Solo. Apalagi bagi sebagian orang, meski recehan saat harus mengeluarkan biaya di fasilitas umum itu cukup membebani. "Kalau bisa gratis kenapa harus bayar," kata Harlis, penumpang yang lain.

Ketua YLKI Jatim Said Sutomo mengaku mendapat keluhan dari para penumpang di Bungurasih. Mereka rata-rata menginginkan gratis akan toilet. "Toilet gratis di terminal aka memberi manfaat kepada masyarakat," kata Said.

Seharusnya, terminal di Bungurasih juga bisa melakukan hal yang sama. Bergantung kemauan pejabat dan kepala daerah setempat. Said melihat bahwa ada kepentingan bisnis untuk tempat toilet di terminal Bungurasih. Pihak ketiga menyewa dan mengelola pojok toilet.

Belum diketahui persis berapa biaya sewa ini. "Makanya sekarang lahgi eker-ekeran perkara bagi hasil dan PAD terminal Bungur. Layanan publik itu bukan mengejat untung dan profit. Biarkan masyarakat yang diuntungkan," tambah Said. Warga tak melapor karena selama ini terpaksa.

Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono mengakui bahwa saat ini masih terjadi selisih akan bagi hasil Terminal Bungurasih. Bahkan dikatakan Pemkota Surabaya memiliki tunggakan sekitar Rp 4 miliar ke Pemkab Sidoarjo.

"Sekarang masih tarik ulur. Mau bagi hasil netto atau bruto dengan komposisi 20 (Sidoarjo) : 80 (Surabaya). Ada alasan lahan luas milik Sidaajo. Namun saat ini Pemkot tak tanggap," reaksi Awi, panggilan Adi Sutarwijono.

Soal desakan toilet gratis, menurut Awi bukan hal mendesak. Selama ini tak terlalu memberatkan penumpang. Justru kalau digratiskan akan memengaruhi biaya operasional di terminal tersebut. Awi juga tak mau menyamakan terminal dengan bandara yang toiletnya gratis.

Plt Kepala Dishub Kota Surabaya Irvan Wahyu Drajat menyatakan bahwa pihaknya menghargai jika ada desakan menggratiskan toilet. "Itu masukan. Tapi ingat, di Solo masih ada peron atau jasa ruang tunggu. Di Bungur gratis," kata Irvan.

Diakui memang sejak UU 28 Tahun 2009 menyangkut peron dihapus, hal ini membuat perjanjian dua daerah menyesuaikan. Seharusnya perjanjian direvisi. Sampai sekarang belum ada kesepahaman antara Surabaya dan Sidoarjo.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yuli
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved