Citizen Reporter

Menimba Ilmu Silaturahmi Idul Fitri

ilmu agama para tetua ini sejatinya sudah lebih dari cukup, namun betapa hausnya mereka akan ilmu baru...

Menimba Ilmu Silaturahmi Idul Fitri
www
mengaji

Catatan hati Indra Kristika
Guru SMK Mahardhika Surabaya
Indrakristika@gmail.com

MUDIK lebaran kemarin, saya sempatkan mengikuti cangkruan para tetua keluarga istri. Perbincangan selalu menarik diikuti dengan narasumber bergantian. Meski materi diskusi para tetua cenderung bertopik sama. Yaitu, menikmati indahnya menuntut ilmu agama.

Salah satu tetua berkisah, betapa senangnya beliau saat salah satu kyai di masjid dekat rumah, datang membawa ilmu baru. Masjid yang sebelumnya hanya diisi salat rawatib, kini diselingi ceramah agama berisikan materi-materi baru yang lebih dalam. Padahal dalam pandangan saya, para tetua tersebut sudah cukup dalam pengetahuan ilmu agama, tetapi ternyata mereka masih haus ilmu baru.

Di topik yang lain (kali ini saya baru tahu), ternyata setiap kyai mempunyai kekhususan tertentu. Mbah Badar (pakde) mengatakan, jika ingin belajar tarjim (terjemah) belajarlah ke kyai A. Jika ingin belajar fiqih, harus ke kyai B. Begitu seterusnya dan jika saya hitung ada sekitar lima belas kyai yang bisa jadi tempat mendulang ilmu dengan spesialisasi berbeda.

Betapa mereka mencintai Islamnya walaupun dengan cara sangat sederhana.  Menurut lontaran kata beberapa tetua, ukuran keberhasilan tak hanya kemampuan seseorang membuat rumah, membeli sepeda motor/mobil atau menjadi pegawai negeri.

Ada keberhasilan yang bagi orang kota terasa aneh.  Yaitu, saat seseorang berhasil mendirikan langgar/surau dan mempunyai beberapa murid untuk diajar ilmu agama sekaligus membaca Al Quran, itulah keberhasilan.   

Ibu mertua berkata, “itu si Syamsul sudah berhasil lho Mas Guru. Dia sudah mendirikan musholla sendiri dan mempunyai beberapa murid mengaji. Senang rasanya.”

Saya terdiam tepekur.  Hati saya seperti dihantam palu.  Bagaimana tidak, terbiasa hidup di kota dan mengamati betapa teman-teman bisa membeli rumah bagus, mobil mewah dan beberapa barang-barang lux lainnya, baru dianggap berhasil. Dalam kenyataannya banyak teman yang hidupnya merasa kering.

Berbanding terbalik dengan si Syamsul ini. Betapa dia menikmati hidup walau dengan cara sederhana, tenteram di desanya yang sejuk dengan keluarga yang selalu mendukungnya atas segala upaya memintarkan murid-muridnya.

Bertetangga dengan orang-orang yang selalu peduli serta siap membantu dengan keikhlasan tingkat tinggi.  Indah sekali!

Semua obyek pembicaraan dari silaturahim tadi saya rekam untuk acuan pola hidup dan tingkah laku ke depan. Mungkin bisa ditularkan kepada murid-murid di kelas, untuk   menikmati hidup dengan silaturahim dan dalam kesederhanaan.

Insya Allah hidup terasa mudah dan penuh keberkahan. 

 


 

Tags
ilmu agama
Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved