Bandara Juanda Surabaya

Polisi Cegat 85 Calon TKI Hanya Berbekal Paspor dan Tiket di Juanda

TK Ilegal dari Jember, Madura, Sidoarjo, Malang, Tuban, Tulungagung dan Banyuwangi. Mereka dikirim ke Malaysia oleh agen travel CSR di Sidoarjo.

Polisi Cegat 85 Calon TKI Hanya Berbekal Paspor dan Tiket di Juanda
SURYA/HABIBUR ROHMAN
TKI ILLEGAL - Saksi dan berbagai barang bukti berupa paspor terkait tindak pidana penggalangan pemberangkatan CTKI Illegal digelar Ditreskrimsus Polda Jatim di Lapangan Tennis Wirangga Polda Jatim, Selasa (28/7/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemberangkatan tenaga kerja ilegal dari Bandara Juanda Surabaya menuju Malaysia berhasil digagalkan petugas Ditreskrimsus Polda Jatim.

Sebanyak 85 tenaga kerja yang keleleran di Juanda kemudian dibawa ke Polda Jatim untuk selanjutnya dipulangkan ke rumah masing-masing.

Para tenaga kerja itu berasal dari berbagai daerah. Termasuk Jember, Madura, Sidoarjo, Malang, Tuban, Tulungagung dan Banyuwangi. Mereka dikirim ke Malaysia oleh agen travel CSR yang beralamat di Sidoarjo.

"Mereka ini korban. Diberangkatkan ke luar negeri hanya dengan paspor kunjungan dan membawa tiket pesawat. Mereka tidak mengantongi dokumen ketenagakerjaan lain," ungkap Direktur Krimsus Polda Jatim Kombes Pol Nur Rohman, Selasa (28/7/2015).

Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan yang masuk ke Polda Jatim bahwa ada pengiriman banyak TKI ilegal melalui Bandara Juanda.

Setelah didatangi, ternyata benar ada 85 calon TKI di Terminal 1 Juanda. "Saat petugas datang, mereka sudah ditinggal oleh pihak yang memberangkatkan," lanjutnya.

Dalam pemeriksaan, diketahui bahwa mereka hendak terbang dari Juanda ke Batam. Setelah itu, belum jelas dengan apa mereka bakal dikirim ke Malaysia. Selain tiket pesawat, petugas juga menyita 56 pasport dari tangan para calon TKI itu.

Polisi mengaku masih mencari siapa pelaku pemberangkatan TKI ilegal ini. "Agen travel tersebut masih dalam penyelidikan. Sejauh ini petugas masih mendalami siapa tersangka pengiriman tenaga kerja ilegal ini," jawab Nur Rohman.

Ternyata, para tenaga kerja itu kebanyakan tidak paham kalau mereka diberangkatkan secara ilegal.

"Saya ditawari kerja di Malaysia menjadi pembantu rumah tangga. Gajinya Rp 3 juta per bulan. Semua biaya pemberangkatan, paspor, serta dokumen lain akan dipotong gaji selama empat bulan bekerja," aku Sri Mona, ibu dua anak asal Jember yang turut menjadi korban.

Halaman
12
Penulis: M Taufik
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved