Pendidikan di Surabaya

Puncak Orientasi di SMKN 12 Surabaya Pada Hari Kedua dan Ketiga

Hari pertama LOS (layanan orientasi siswa) dipenuhi dengan suasana bermacam-macam. Seperti yang terlihat di SMKN 12 Surabaya.

SURYA.co.id | SURABAYA - Hari pertama LOS (layanan orientasi siswa) dipenuhi dengan suasana bermacam-macam. Seperti yang terlihat di SMKN 12 Surabaya.

Sekitar 800 siswa baru di sekolah ini menjalani hari pertama LOS dengan memberikan materi seputar sekolah. Selain itu, juga diberikan kesempatan untuk mengenal antar teman di jurusan yang lain.

Waka siswa SMKN 12, Mardi, mengatakan pada hari pertama ini siswa dibagi menjadi tiga kelompok, di mana kelompok itu bukan antar jurusan tetapi digabung dengan jurusan yang lain.

"Hari pertama ini semua siswa digabung dalam tiga kelompok. Jadi mereka harus kenal sesama angkatan dulu," ungkapnya ketika ditemui di aula SMKN 12.

Disamping itu, pada hari pertama ini mereka siswa baru masih belum diberikan tugas apapun selain bawaan seperti alat tulis, membuat name tag, serta memakai seragam putih abu-abu.

Di SMKN 12 yang terkenal dengan sekolah kesenian ini, pada hari kedua dan ketiga akan mengadakan penampilan besar-besaran sesua jurusannya masing-masing.

"Kalau karawitan mereka menampilkan sesuai pilihan jurusannya. Nggak kalah juga nanti yang pedalangan juga akan tampil mendalang. Jadi puncaknya besok sama lusa," tambahnya.

Di sekolah kesenian ini, Mardi pun menjelaskan siswa tidak perlu takut untuk belajar mulai dari awal. "Pasti kami ajarkan mulai dari dasar, asal siswa itu punya niat juga untuk belajar," tutur Mardi.

Di antaranya siswa baru jurusan pedalangan, Irine Maya Ratu D ini mengaku memang suka dengan kesenian khas Indonesia. Walaupun masih belum ada background mendalang, ia memantapkan pilihan di jurusan pedalangan ini.

"Emang niat dari awal mau belajar kesenian dan melestarikan budaya. Mulai dari belajar pedalangan ini," paparnya sesaat sebelum memasuki Aula.

Selain Irine, hal yang serupa juga diungkapkan oleh Febri Ramadhan P. Siswa baru asal Lumajang ini mengaku mendapat warisan bakat dari orangtuanya yang memang seorang pedalang di kampung halamannya.

"Ada turunan sedikit, karena lihat ayah yang sering ndalang kalau di acara kampung. Tapi emang udah cta-cita jadi guru kesenian. Makanya harus bisa mendalang," ungkapnya.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help