Sinetron atau Film: Mana yang Dipilih Lulu Kurnia?

Kerja di film memang melelahkan, tapi tuntutan totalitas membuat pengalaman Lulu kian ditempa dengan baik. Di sinetron tuntutannya adalah kerja cepat.

Sinetron atau Film: Mana yang Dipilih Lulu Kurnia?
surya/pramudito
Luluk Kurniawati 

SURYA.co.id | SURABAYA - Luluk Kurniawati bersyukur, meski tanpa ‘manajemen gosip’ kariernya di industri hiburan Tanah Air tetap bertahan hingga kini. Sudah beragam karakter dia perani sejak hijrah ke Jakarta.

“Saya tak pilih-pilih peran. Karena passion saya memang di dunia akting, maka saya siap menjalani setiap peran yang diberikan pada saya,” tutur Ning Suroboyo 1992 ini.

Artis yang kini dikenal dengan nama Lulu Kurnia ini menambahkan, lewat peran yang dilakoni, dia sekaligus ingin melihat kehidupan yang tak pernah dia alami. “Ini semua berkat arahan guru-guru akting saya semasa sekolah dulu, pak Anang Hanani dan Mas Meimura,” cetus lulusan SMA Pirngadi Surabaya ini.

Menurut Luluk, kini masih ada tiga film yang menunggu masa tayang di layar lebar, yaitu Adrenaline, Move On, dan Valentine. Khusus film Move On yang digarap sutradara Deddy Reang, adalah kisah nyata Sam Brodie yang sempat menjalani trans gender sebelum kemudian kembali ke status semula sebagai pria normal.

Ketika ditanya pilih main film atau sinetron, Luluk tak bisa memberi jawab pasti karena keduanya sangat diperlukan dalam perjalanan kariernya. "Kerja di film itu melelahkan, sebab satu film bisa empat bulan selesai. Tapi di situ (film) diperlukan totalitas dalam bekerja. Ekspresi harus maksimal," bebernya.

Sedang di sinetron diakui lebih enak lantaran tak perlu kerja keras dan hasil yang diperoleh pun lebih besar. "Kalau sinetron itu kan 'industri', jadi kerjanya emang dituntut cepat selesai supaya bisa cepat tayang," ungkap Luluk yang menjelang Lebaran lalu sinetronnya Jam Tangan untuk Ibu tayang di TransTV.

Meski begitu, Luluk mengaku ada tiga judul sinetron yang sangat berkesan dalam hidupnya, yaitu Manohara (RCTI), Terimakasih Ayah (TransTV), dan Jam Tangan untuk Ibu (TransTV). "Di Manohara itu saya berperan sebagai orang gila. Sedang di Terimakasih Ayah saya kebagian peran orang gagu," tuturnya.

Khusus untuk sinetron Jam Tangan untuk Ibu, lanjut Luluk, dia memahami menjadi seorang ibu tidaklah mudah. "Di sinetron itu saya berperan sebagai ibu yang mencintai anaknya dengan cara salah. Karena dia mudah memberi hukuman pada anak tanpa lebih dulu menanyakan apa alasan anaknya itu melakukan sesuatu misalnya," kata Luluk yang bersama Muchit, suaminya, sempat mengelola Mahardhika Modeling School.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Achmad Pramudito
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved