Berita Sidoarjo

Jaksa Sidik Korupsi Sapi Rp 6 Miliar, Pejabat Akui Kecolongan

#SIDOARJO - Kasus dugaan penyimpangan dana bantuan sosial sapi betina Rp 6 miliar yang diusut jaksa Sidoarjo membuat Dinas Peternakan kelimpungan.

Jaksa Sidik Korupsi Sapi Rp 6 Miliar, Pejabat Akui Kecolongan
SURYA.co.id/Anas Miftakhudin
Kandang sapi yang sangat buruk milik kelompok tani di Sidoarjo yang terlibat skandal korupsi sapi bantuan senilai Rp 6 miliar. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Kasus dugaan penyimpangan dana bantuan sosial (bansos) sapi betina senilai Rp 6 miliar yang diusut Kejaksaan Negeri Sidoarjo membuat Dinas Peternakan kelimpungan.

Pihak dinas mengaku kasus ini buah dari kurangnya pengawasan. Dinas merasa kecolongan adanya dugaan penyimpangan.

“Dalam hal ini, kami memang kecolongan,” kata Kepala Bidang Peternakan Bambang Erwanto, Jumat (24/4/2015).

Satu dari beberapa kelompok tani yang menjadi target penyidikan sudah membuahkan hasil. Korps Adhyaksa menetapkan Abdul Kodim, Ketua Kelompok Tani Bangkit Bersama, Desa Sarirogo, Kecamatan Sidoarjo sebagai tersangka.

Bambang mengatakan, terkuaknya penyelewengan program bantuan sapi betina ini adalah tamparan keras bagi instansi yang dipimpinnya.

Dia menilai, sistem pengawasan yang dilakukan Dinas Peternakan kurang memadai. Meskip begitu, dinasnya sudah melakukan pendampingan dan kontrol bagi kelompok tani penerima bantuan.

“Padahal setiap bulan mereka (kelompok tani) melaporkan perkambangan sapi bantuan. Jadi saya tidak menyangka kok sampai ada yang melakukan penyimpangan seperti ini. Jelas ini pelajaran agar kami membuat sistem pengawasan yang lebih ketat,” ujar Bambang.

Perbaikan sistem pengawasan itu, lanjut Bambang, dengan mendatangi langsung kandang-kandang tempat sapi bantuan dipelihara.

Selama ini dia mengakui pengawasan hanya berbekal pada laporan sepihak dari kelompok tani. Dengan adanya kasus ini, sistem itu akan diubah dengan metode cross check.

“Kami ita akan cocokkan antara laporan kelompok tani ini dengan kondisi di lapangan. Upaya ini untuk mencegah adanya penyimpangan seperti sapi bantuan tidak diplihara, eh mala dijual. Kami sendiri berusaha kooperatif agar kasus ini tuntas segera,” kata Bambang lagi.

Dia mengugkapkan, Kelompok Tani Karya Bersama sebenarnya rutin mengirimkan laporan perkembangan sapi bantuan.

Selama ini, laporan kelompok tani ini menurut Bambang baik-baik saja. Hanya saja, saat tim kejaksaan mengusut kasus ini, kelompok tani itu sudah dua bulan tidak melaporkan perkembangan sapi bantuan yang mereka terima ke Dinas Pertanian.

Dugaan penyimpangan program penyelamatan sapi betina yang diberikan Kementrian Pertanian pada 2010 hingga 2012 juga terjadi di sembilan kelompok tani lainnya.

Tim kejaksaan membidik kelompok tani lain yakni Pertapan Jaya Desa Pertaman, Taman; Sumber Makmur Desa Permisan, Jabon; Tani Sejati Tropodo, Krian.

Kemudian Lembu Joyo Porong; Gotong Royong Desa Kedungkembar, Prambon; Putra Harapan 2 Desa Singkalan, Balongbendo; Sukan, Desa Kedungsukodani, Balongbendo, dan Bogser Desa Bogempinggir Balongbendo.

Penulis: Miftah Faridl
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved