Berita Mojokerto

Rekening BPBD Mojokerto Kebobolan Rp 2,1 Miliar

"Dalam penanganan ini, penyidik sudah menentukan seorang tersangka berinisial J," tutur Kasi intelijen Dinar Kripsiaji SH, Kamis (23/4/2015).

Rekening BPBD Mojokerto Kebobolan Rp 2,1 Miliar
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Teller sebuah bank di Jakarta Selatan menghitung uang rupiah di atas dolar Amerika Serikat. 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Dana bencana yang disimpan di rekening Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto senilai Rp 10,7 miliar menguap sekitar Rp 2,1 miliar.

Menguapnya dana sebanyak itu diduga kuat melibatkan beberapa pihak. Karena untuk mencairkan dana yang disimpan di Bank BRI Mojokerto tidak hanya dilakukan seorang. Bahkan untuk mencairkan dana yang ada harus ada tanda tangan bendahara dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Dugaan korupsi pembobolan uang negara itu kini tengah ditangani Kejari Mojokerto. Kasus tersebut melambung ke aparat penegak hukum karena ada selisih atas penggunaan uang dan saldo yang ada.

"Dalam penanganan ini, penyidik sudah menentukan seorang tersangka berinisial J," tutur Kasi intelijen Dinar Kripsiaji SH, Kamis (23/4/2015).

Informasi yang diperoleh, dana Rp 10,7 miliar itu turun dari pusat sekitar Desember 2013 dan langsung dimasukkan dalam rekening Rehabilitasi dan Rekonstruksi.

Begitu uang masuk sekitar awal Januari 2014, uang yang ada dalam rekening sudah diambil oleh J. Posisi J sendiri di BPBD sebagai bendahara.

Bulan berikutnya atau Januari hingga Desember 2014 uang juga dibobol oleh J. Nilainya bervariasi mulai Rp 100 juta sampai Rp 200 juta.

Pertama mengambil uang, J selaku bendara didampingi PPK namanya juga berinisial J.

Namun pengambilan berikutnya, J bagian bendahara diduga mengambil sendiri ke BRI Mojokerto.

Pada 13 Maret 2015, penggerogotan uang di rekening mulai terendus karena dari pihak BPBD mengevaluasi dana yang ada. Ternyata uang yang ada ada selisih Rp 2,1 miliar hingga menjadi perbincangan di kalangan pejabat dan masyarakat.
Karena bocornya uang itu dinilai tidak wajar.

Halaman
12
Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Yoni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved