Dulu Tukang Pijat PSK, Sekarang Berharap dari Batik

Sampai sekarang pun ia masih memijat tapi tak seramai saat lokalisasi buka. Wanita 55 tahun ini pun juga membuat kue untuk tambahan biaya.

SURYA.co.id | SURABAYA - Beberapa orang harus menggantungkan nasib kepada hiruk-pikuk lokalisasi. Namun pascalokalisasi tutup mereka mengaku hampir tidak ada pemasukan financial sama sekali.

Seorang tukang pijat PSK di Putat Jaya mengalami kemunduran materi. Padahal ibu yang dikarunai satu anak ini harus menjadi tulang punggung keluarga. Ismiarti masih mempuyai seorang ibu berusia 78 yang sedang sakit. Sedangkan anaknya bekerja sebagai kuli batu.

Sampai sekarang pun ia masih memijat tapi tak seramai saat lokalisasi buka. Wanita 55 tahun ini pun juga membuat kue untuk tambahan biaya.

“Tidak ada pemasukan malah banyak pengeluaran,” ucap ibu yang akrab disapa Miarti.

Ia pun berharap lebih pelatihan batik dari pemerintah ini. Untuk mengikuti pelatihan ini pun ia mengaku harus menitipkan sang ibu yang sudah sepuh ke tetangganya.

Dampak penutupan lokalisasi ini banyak dialami warga RW III, VI, X, XI, dan XII Kelurahan Putat Jaya.

Mereka yang terdampak adalah orang yang mengambil keuntungan dari lokalisasi. Kebanyakan adalah tukang jual nasi, jual baju (seksi) untuk para tunasusila, kos-kosan, karaoke, dan bahkan usaha laundry harus gulung tikar. Contohnya adalah Fitria. Ibu dua anak ini harus menutup usaha cuci mencuci baju.

“Gimana lagi, sepi gak ada yang harus dicuci,” ucap Fitria.

Hampir lima bulan sudah warga kebingungan untuk mencari solusi. Pemerintah kota Surabaya bekerja sama dengan CSR PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mengadakan pelatihan membatik.

“Sebenarnya 30 orang yang menjadi target pelatihan, tapi yang datang hanya 21 orang saja,” tutur Bambang Hartono, lurah Putat Jaya.

Halaman
12
Penulis: Ian Darmawan
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help