Surya/

Topeng Kematian Raja Berumur 2.000 Tahun

Dengan adanya museum itu, Reno berharap bisa menjadi wahana pendidikan sejarah bagi anak-­anak sekolah.

SURYA Online, BATU - Kota Wisata Batu kini memiliki wahana wisata baru berupa d’Topeng Kingdom Indonesian Heritage Art Museum yang berada di kawasan  Museum Angkut Jl Abdul Gani. Wahana wisata ini menampilkan sekitar 2.000 topeng dan ratusan barang antik lainnya dari masa prasejarah hingga kerajaan Majapahit.

Reno Halsamer (50), warga Surabaya yang menggagas terbentuknya museum tersebut, sudah 20 tahun ini mengoleksi barang­barang antik yang memiliki nilai kebudayaan di kalangan masyarakat Indonesia. Barang itu, ia buru dari masyarakat langsung dan dari para kolektor.

Topeng yang ia koleksi berasal dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua, Khusus topeng Jawa dan Bali memiliki perbedaan dengan topeng dari pulau lainnya. Topeng­topeng dari Jawa dan Bali memiliki warna dan ukiran yang halus. Ini menunjukkan, kebudayaan di Jawa dan Bali lebih unggul dibandingkan daerah lain kala itu.

Pengunjung yang masuk ke museum itu akan diperlihatkan berbagai macam topeng dari berbagai daerah. Topeng­topeng tersebut diletakkan dalam lemari kaca besar yang terpisah berdasar asal daerahnya.

Bagi Reno, mengoleksi topeng­topeng itu seperti halnya mempelajari kebudayaan Nusantara. Topeng banyak bercerita kisah Ramayana. Dulu, topeng digunakan sebagai alat perjuangan. Misalnya, topeng bermotif tentara belanda, itu digunakan untuk perjuangan melawan Belanda.

Topeng sama dengan wayang, yakni mengandung aspirasi rakyat sebagai penyampai pesan. Di antara koleksi topeng yang dipajang, terdapat topeng kematian dari Sulawesi. Topeng tersebut ada yang terbuat dari kayu dan logam untuk menutup wajah raja yang meninggal.

Pada masa kerajaan, wajah raja yang meninggal harus ditutup dengan topeng. Sebab raja dianggap titisan dewa sehingga wajahnya tidak boleh menyiratkan kesedihan.

“Topeng ini yang paling tua. Saya mendapatkannya lumayan sulit,” kata Reno sembari menunjukkan topeng kematian.

Bukan hanya topeng, Reno juga mengoleksi benda­benda prasejarah, seperti patung tao­tao penjaga kematian dan patung Yene yang terbuat dari batu setinggi kurang lebih 50 cm dari Sulawesi Tenggara. Patung itu diduga dibuat jaman Don Song sebelum masehi.

Reno mendapatkannya dari seorang warga Prancis yang mau membawanya ke negaranya. Namun karena membawa benda­benda purbakala ke luar negeri ketat, Reno pun mendekati dia dan akhirnya dia menjual patung tersebut.

Ada juga koleksi kitab Alquran yang berumur sekitar 400 tahun. Kitab tersebut terbuat dari kulit binatang. Ada juga terjemahan Alquran dengan disertai gambar wayang. Kitab­kitab ini sepertinya dibuat pada jaman Wali Songo. Di situ terdapat gambar­gambar wayang agar pembaca mudah memahami. Waktu itu, kebanyakan masyarakat masih menganut agama Hindu dan Budha.

“Alquran ini saya beli dari kolektor di Banyuwangi. Saya punya juga  kitab seperti ini dan mau dibeli kolektor dari Australia. Tapi saya tolak karena kualitas gambar dan ditulis di kertas dari Belanda yang harganya paling mahal waktu itu,” jelasnya.

Masih banyak koleksi Reno yang belum dipamerkan di museum. Koleksi itu berupa perhiasaan terbuat dari emas jaman Kerajaan Majapahit dan raja­raja sebelumnya, berupa, cincin, giwang, gelang. “Masih belum saya taruh di sini. Saya masih melihat keamanannya dulu,” katanya.

Tidak mudah bagi Reno mendapatkan barang­barang bernilai sejarah itu. Pengusaha elektronik ini harus keliling Indonesia, bahkan barang yang paling sulit didapatkan adalah ketika sudah di tangan kolektor.

Dengan adanya museum itu, Reno berharap bisa menjadi wahana pendidikan sejarah bagi anak-­anak sekolah. Sebab di Indonesia baru museum topeng ini yang mau membuka untuk publik. Kebanyakan, para kolektor untuk dinikmatri sendiri. “Di luar negeri banyak museum barang antik yang menampilkan benda­benda kebudayaan Indonesia. Hampir merata di seluruh Eropa, Amerika, Brasil, Prancis,” jelas Reno.

Penulis: Iksan Fauzi
Editor: Wahjoe Harjanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help