Sukses Produksi Tas Fringe Bag, Permintaan Dari Luar Negeri Berdatangan

Ia cukup membeli bahan dasar kain bludru dari pejual kain di Surabaya dan mencari penjahit yang sesuai yang ada di lingkungannya.

Sukses Produksi Tas Fringe Bag, Permintaan Dari Luar Negeri Berdatangan
surya/ahmad zaimul haq
Fringe bag warna-warni hasil kreasi Dea Amelia. 

SURYA Online, SURABAYA - Inisiatif Deato memproduksi tas Fringe memberi perubahan besar dalam perjalanan bisnisnya.

Terobosan itu dilakukannya dengan tahapan yang sederhana.

Ketika merasa tren fringe bag bisa mendatangkan keuntungan, Ia melihat model-model tas fringe melalui internet untuk memunculkan ide membuat modifikasi tas sendiri.

Deato membuat sendiri model dan desain tas fringe

Desain buatannya lalu direalisasikan pada penjahit tas. Setelah puas dengan hasil yang didapat, iapun mulai berani menawarkan produk Fringe bagnya secara online dan mulai memproduksi massal.

Ia cukup membeli bahan dasar kain bludru dari pejual kain di Surabaya dan mencari penjahit yang sesuai yang ada di lingkungannya.

“Kalau yang bagus harusnya memang pakai bahan suede, tapi aku pilih pakai bludru karena segmen pasar kelas menengah bawah, model ini peminatnya banyak anak remaja. Cari kain bludru masih mudah di Surabaya, sekarang bahkan bahannya ada yang lebih bagus,” tambahnya.

Sejak dimulai produksi pada Desember 2013 Sampai sekarang sudah ada empat pilihan model tas Fringe buatannya.

Ada model sling, tote, seling serut dan ransel dengan beragam pilihan warna.

Tas berumbai dari bahan kain bludru itu tersedia dalam pilihan warna hitam, cokelat, ungu, tosca, merah dan pink.

Harga penjualan satuan masing-masing model berbeda. Untuk tas fringe seling harganya Rp 55.000. Fringe Tote Rp 65.000 sedangkan yang model ransel harganya Rp 130.000.

Produksi yang dilakukan setiap hari rata-rata menghasilkan 100-300 tas setiap harinya.

Produksi itu dilakukan oleh tiga penjahit. Itupun Deato mengaku masih kewalahan.

Ia merasa perlu menambah tenaga penjahit untuk mencukupi permintaan pasar.

Permintaan pasar bahkan jauh lebih besar. “Dalam sehari saja permintaan melalui Instagram bisa sampai 700 biji. Kalau dihitung-hitung mungkin sampai sekarang sudah terjual lebih dari 10.000 tas,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Deato menyebut permintaan datang dari hampir semua daerah di Indonesia. Paling banyak order datang dari Sumatra dan Papua.

Permintaan dari luar negeri, khususnya dari Malaysia dan Singapura juga mulai datang, hanya saja dia masih bingung untuk menyanggupi permintaan ekspor itu.

Menurutnya biaya pengiriman ke luar negeri masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan harga barang.

Penulis: Dyan Rekohadi
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved