Usai Sertijab Salam Komando di Dalam Kapal Selam

Prosesi serah terima jabatan (sertijab) Komandan KRI Nanggala - 402 di Satuan Kapal Selam Koarmatim, umumnya dilakukan dalam upacara di lapangan.

Usai Sertijab Salam Komando di Dalam Kapal Selam
dispen armatim
Prosesi sertijab komandan KRI Nanggala 402 dilakukan di atas geladak yang sempit, Jumat (16/5/2014).

SURYA Online, SURABAYA - Prosesi serah terima jabatan (sertijab) Komandan KRI Nanggala - 402 di Satuan Kapal Selam Koarmatim, umumnya dilakukan dalam upacara yang digelar di lapangan depan mako Satsel. Tapi khusus pekan lalu, sertijab dilakukan di atas geladak kapal yang sempit sehingga pasukan peserta upacara berbaris di areal dermaga Satsel.

Meski tidak di lapangan, karena areal dermaga tampak lebih teduh dan sejuk, prosesi upacara sertijab tetap berlangsung khidmat dan serius. Di atas geladak kapal dengan lebar hanya sekitar satu meter dan panjang tak lebih dari 10 meter.

Beberapa prajurit peserta upacara tampak berdiri berbaris dua baris di ujung depan geladak. Sementara prosesi sertijab dilakukan di depannya, dengan meja penandatangan sertijab di geladak dekat "punuk" kapal selam yang tahun 2012 lalu baru selesai melakukan perbaikan dan over houl serta modernisasi alutsista di Korea Selatan itu.

Sebagai inspektur upacara, Komandan Satuan Kapal Selam (Satsel) Koarmatim Kolonel Laut (P) Purwanto dan prosesi sertijab dilakukan dari Mayor Laut (P) Wirawan Ady Prasetya kepada penggantinya Mayor Laut (P) Harry Setyawan, SE. Prosesi cukup singkat.

Setelah upacara dimulai, kedua perwira dengan melati satu dipundak itu maju ke depan inspektur upacara dan penggantian tanda jabatan. Setelah itu, penandatangan surat keputusan yang juga dilakukan di depan inspektur upacara.

Usai prosesi, Komandan Satsel Koarmatim Kolonel Laut (P) Purwanto, mengungkapkan bila bahwa semua alutsista setiap saat dituntut untuk hadir di laut untuk mampu menegakkan dan mempertahankan kedaulatan serta mengamankan keutuhan wilayah perairan yurisdiksi nasional. Untuk itu harus dipersiapkan secara cermat dengan melalui pembinaan secara utuh menyeluruh.

"Perlu disadari juga, bahwa tolok ukur keberhasilan seorang komandan bukan saja ditinjau dari aspek operasional saja, namun juga dari aspek pembinaan personel," kata Komandan Satsel Koarmatim.

Usai sertijab, Mayor Laut (P) Wiryawan Adi Prasetya masuk di Perwira Staf Operasi (Pasops) Satsel Koarmatim. Posisi Mayor Mayor Laut (P) Harry Setyawan SE sendiri, sebelumnya juga sebagai Pasops Satsel Koarmatim. "Kami tukar tempat," ujar Mayor Harry, yang merupakan alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan 43/ tahun 1997.

Tugas di Satsel juga sudah dijalaninya selama 13 tahun. "Kapal selam memang bagi kami bukan sesuatu yang baru. Dengan jabatan baru ini, kami siap memberikan yang terbaik, semangat disiplin, prestasi yang sudah dicapai akan kami lanjutkan lagi, demi bangsa dan negara," lanjut Mayor Harry.

Usai sertijab diatas geladak, ketiganya masuk ke dalam kapal selam untuk memberikan salam komandonya. Untuk masuk ke kapal, melewati lubang dengan diameter kurang satu meter dan melalui tangga lurus.

KRI Nanggala 402 sendiri, merupakan satu dari dua kapal selam jenis Cakra yang dimiliki TNI AL. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kapal selam TNI AL termasuk kalah dalam jumlah dan usia. KRI Nanggala 402 merupakan kapal selam tipe U 209/1300 dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel dari Jerman Barat pada tahun 1981 dan merupakan kapal selam yang banyak di gunakan oleh Angkatan Laut seluruh dunia.

Memiliki keunggulan dan kemampuan delapan kali di banding kapal perang biasa, bagaikan "monster bawah laut" di perairan Indonesia karena kemampuan menyelam hingga 200 meter di bawah laut dan bisa bertahan selama hampir dua bulan (52 hari ). Dengan kedalaman itu, KRI ini mampu mendeteksi obyek melalui sonar hingga 40 kilometer (24,03 mil ).

Dengan motto "Tabah Sampai Akhir" itu, dibalik kecanggihannya, fasilitas minim dan sempit untuk para awak kapal ternyata bukan menjadi halangan. Dengan ukuran berat selam 1,395 ton, panjang 59,5 meter, dan lebar 6,3 meter, draf 5,5 meter dan kecepatan 21,5 knot dan awak hanya 34 orang, hanya memberi sedikit ruang bersantai bagi para awaknya saat melakukan tugas pelayaran.

Salah satunya, tempat tidur yang hanya berukuran sekitar 170 cm x 50 cm, dan kamar mandi yang hanya dua. "Semuanya itu tidak menjadi masalah, kami telah dilatih untuk memberikan yang terbaik di kapal ini," tandas Mayor Herry.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved