Menjajaki Sisi Lain Pulau Penjahat

Siapa tak kenal Nusa Kambangan? Di pulau penjahat inilah kami datang dan menantang!

Menjajaki Sisi Lain Pulau Penjahat
Ujang Sarwono

Oleh : Ujang Sarwono
Mahasiswa Pendidikan Profesi Jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Malang
ujangsarwono@yahoo.com

Pulau ini pernah jadi tempat pengasingan mantan putra presiden Soeharto, yaitu Tommy Suharto. Selain itu, di tempat ini juga pernah jadi tempat eksekusi mati pelaku bom Bali 1 yakni Amrozi dan Imam Samudra. Ya, Nusa Kambangan, di Kabupaten Cilacap ini membuat kami penasaran untuk menjajakinya.

Berangkat dari rasa penasaran, kami, empat orang berangkat mengunjungi Nusa Kambangan. Kereta kelas ekonomi mengantarkan kami hingga ke Kabupaten Cilacap. Perjalanan seru dan menantang kami awali dengan menyeberangi Teluk Penyu. Perahu motor berkapasitas tak lebih dari sepuluh orang siap mengantar pengunjung ke Nusa Kambangan. Dengan biaya Rp 10.000 per orang pengunjung akan diantar jemput setelah puas menikmati keindahan Nusa Kambangan.

Tulisan Selamat Datang di Objek Wisata Nusa Kambangan Timur terpampang jelas saat kami menuruni perahu. Tulisan itu seolah mengajak kami segera menjelajahi Nusa Kambangan bagian timur ini. Kami mengeluarkan uang Rp 5.000 untuk tiket masuk. Berjalan sekitar satu kilometer menyusuri jalan setapak dengani pemandangan pohon-pohon cukup besar di kanan kiri jalan, kami disambut benteng peninggalan Belanda yang berdiri kokoh.

Puas melihat benteng peninggalan Belanda kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Karang Bolong yang lokasinya tak jauh dari Benteng Belanda tersebut. Ombak besar silih berganti menghantam karang yang berada di tepi pantai. Pantai Karang Bolong terlihat masih alami, mungkin karena jarang dikunjungi wisatawan karena letaknya yang terpencil. Namun demikian pantai ini menyimpan eksotisme tersendiri dengan kealamiannya.

Pantai Karang Bolong dan benteng Belanda seakan menjadi saksi bisu pengalaman kami di Nusa Kambangan. Sebenarnya masih banyak keindahan lain di pulau ini. Sayang, senja memaksa kami harus kembali ke perahu yang akan mengantar kami meninggalkan Nusa Kambangan.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help