Surya/

Liputan Khusus Meneladani Kartini

Pilih Menjanda Ketimbang Balik ke Wisma

Saat mulai meninggalkan dunia prostitusi, tak sedikit rekan dan pelanggannya yang menggoda dan mengejek.

Pilih Menjanda Ketimbang Balik ke Wisma
surya/ahmad zaimul haq
Parmi melihat-lihat hijab di toko yang biasa menjadi tempatnya kulakan baju, Senin (21/4/2014). 

SURYA Online, SURABAYA - Saat mulai meninggalkan dunia prostitusi, tak sedikit rekan dan pelanggannya yang menggoda dan mengejek.

Ada teman yang menggodanya untuk ‘naik kelas’ menjadi mucikari.

"Kepingin mbambung ta (apa kamu ingin menjadi gelandangan? Mlarat gak duwe duit saiki kon (sekarang miskin kami kamu, gak punya duit,” ucap Parmi menirukan ejekan seorang pelanggan.

Tapi, Parmi bergeming. ia tekun menjalani hidup pilihannya.

Ketekunan hatinya membuat orang yang awalnya sinis, pelan-pelan berubah simpatik, bahkan akhirnya mendukung.

Untuk urusan uang,  Parmi  harus memutar otak untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Sehari-hari, dia mencuci pakaian warga sekitar dan juga menerima jahitan.

Kadang, dia juga mengkreditkan pakaian. Ia tidak peduli dengan  pekerjaan dilakoninya, yang penting berlebel halal.

Setiap bulan, ia bisa tiga sampai empat kali mendapatkan pesanan pakaian dari teman-teman di wisma.

Tapi,  jual beli ini  tidak lantas menghasilkan uang. Pelanggan di wisma  lebih banyak yang kredit.

Halaman
123
Tags
Kartini
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help