Surya/

Kecanduan Gadget Hambat Imajinasi Anak

Kak Bimo, demikian sapaan akrabnya, mengemukakan bahwa mendongeng di Indonesia perlu terus dikembangkan.

Kecanduan Gadget Hambat Imajinasi Anak
surya/samsul hadi
Siswa kelas 5 SD Katolik Santo Yusup 3, Kota Malang, belajar membatik dan melukis topeng di Museum Tempo Doloe, Kota Malang, Senin (30/9/2013).

SURYA Online, SURABAYA - Pakar dongeng (storytelling) Bambang Bimo Suryono menilai, kecanduan menggunakan alat komunikasi multifungsi dalam genggam (gadget) dan menonton televisi pada anak dapat menghambat imajinasi yang sangat penting guna memunculkan rasa ingin tahunya.

"Orang tua harus bisa menetapkan kadar candu anak pada gadget dan televisi, semakin kecanduan semakin bahaya. Ketika anak bermain gadget atau menonton televisi, maka mereka hanya menerima stimulus, tidak ada imajinasi yang berkembang di sana," katanya di Surabaya, awal pekan ini.

Ia mengemukakan hal itu dalam workshop mendongeng membangun karakter dengan cerita mendidik (Character Building with Story Education) bagi guru pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya.

Kak Bimo, demikian sapaan akrabnya, mengemukakan bahwa mendongeng di Indonesia perlu terus dikembangkan.

"Pada 15 tahun yang lalu budaya mendongeng masih jarang ada, namun sekarang budaya ini telah berkembang dengan pesat dengan munculnya pendongeng-pendongeng baru dan buku cerita yang telah banyak terbit," ujar pendongeng asal Yogyakarta itu.

Saat ini, ia mengatakan, di Yogyakarta sudah ada 70 pendongeng. "Nantinya, diharapkan di setiap kota dan kabupaten di Indonesia paling tidak memiliki tiga orang pendongeng yang dapat meningkatkan imajinasi anak-anak," katanya.

Ia juga menjelaskan, guru harus pandai bercerita agar anak didiknya dapat menjelajah imajinasinya sehingga mereka mempunyai imajinasi yang tinggi guna memicu rasa ingin tahu dan pemahamannya menjadi tajam.

"Yang terpenting bukan pencapaian dan pemahamannya terhadap materi, tapi budaya belajarnya. Karena belajar pun dapat dilakukan dengan cara mendongeng itu tadi," kata penerima dua rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pendongeng dengan suara terbanyak dan pendongeng dengan khalayak terbanyak itu.

Ketua BEM FKIP Unitomo Surabaya Asmawiyanto mengatakan workshop itu bertujuan menyosialisasikan membangun karakter anak melalui dongeng.

"Sebagai mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, kami menggelar workshop ini untuk membangun karakter anak melalui dongeng. Dengan dongeng yang positif, diharapkan bisa membawa anak menjadi pribadi yang positif juga,"  ujarnya menambahkan. (ant)

Editor: Heru Pramono
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help